Rabu, 20 Agustus 2008
Artikel Terkini
Artikel Populer
Manusia dan sikap penampilannya PDF Cetak
Penilaian pengunjung: / 26
JelekBagus sekali 
Ditulis oleh Shanti L. Poesposoetjipto   
Selasa, 14 Desember 1999
Berikut ini adalah artikel yang menarik dari makalah ibu Shanti L. Poesposoetjipto yang dipresentasikan di sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Centre for Corporate Leadership tanggal 28 Nopember 1996. Subyeknya adalah " Manusia dan sikap penampilannya". Ibu Shanti mengawali sajiannya dengan mengutip pernyataan dari Tom Watson, Jr : " Seluruh nilai dari perusahaan ini terletak pada Sumber Daya Manusia-nya. Bilamana anda membakar seluruh pabrik kami, dan kami hanya ditinggalkan SDM kami serta berkas-berkas informasi kami, maka kami akan dapat kembali bangkit dalam waktu dekat seperti sediakala. Rebut tenaga manusia kami, maka kami kemungkinan sekali tidak akan dapat pulih kembali".


Penyajian ibu Shanti ini disusun dalam bentuk penyataan atau yang dikenal dengan tenet, sehingga memberikan kemudahan penyerapan dalam menerima maksud penyampaian subyek. Tenet tersebut adalah sebagai berikut. Penyajian serta makalah ibu Shanti disusun dalam bahasa Inggris. Kami terjemahkan pemikiran yang baik ini untuk anda, namun bagi yang ingin memperoleh naskahnya dalam bahasa Inggris, juga tersedia secara lengkap. Silahkan baca dalam kolom pakar ini.


  1. Tenet # 1 :
    Faktor-faktor yang menjadi landasan umum bagi kesuksesan bisnis dalam mempertahankan kedudukannya yang menguntungkan , tidak lagi diandalkan kepada teknologi, hak paten ataupun kedudukan strateginya, melainkan kepada bagaimana mereka membina tenaga kerjanya.

    Manusia, dan bagaimana membinanya makin menjadi penting karena sumber-sumber keuntungan persaingan lainnya makin lama makin lemah dibandingkan dengan saat-saat sebelumnya. Menyadari bahwa landasan dari keuntungan kompetitif sudah berubah merupakan hal yang cukup esensial dalam membentuk dasar acuan yang berbeda dalam melihat isu-isu manajemen serta strateginya. Sumber-sumber keberhasilan tradisional - yaitu produk dan proses dari teknologi, pasar yang dilindungi atau diatur, akses terhadap sumber-sumber finansial dan skala ekonomi - masih dapat diandalkan, namun pada derajat yang terus menurun sekarang ini dibandingkan terhadap masa lalu sehingga hanya menyisakan budaya organisasi serta kemampuannya yang diturunkan dari bagaimana membina manusia, menjadi makin vital. Argumentasi berikut memberikan indikasinya yang jelas :


    1. Teknologi produksi dan proses
      Sejak mengecilnya siklus produksi dan diperkenalkannya produk-produk baru secara makin sering, maka mengandalkan kepada teknologi produk untuk kesuksesan terus menjadi masalah. Perusahaan menelusuri keuntungan kompetitifnya tidak hanya dari teknologi produk mereka semata, namun juga dalam teknologi proses dimana produk yang bersangkutan ataupun pelayanannya dihasilkan. Perusahaan ternyata menghadapi kenyataan-kenyataan berikut :


      1. Hanya sedikit dari teknologi bersifat tertutup (propriety). Mereka yang menjual robot atau terminal titik penjualan (point of sale terminal) ataupun perangkat lunak bagi suatu pihak, ternyata juga menawarkannya kepada kompetitor lainnya. Maka kemampuan perusahaan bagi keuntungan kompetitif, termasuk manfaat yang dapat diperoleh dari teknologi - yang dalam banyak hal memang tersedia - tergantung kepada kemampuan perusahaan untuk mengimplementasikannya secara lebih berdaya guna. Ini hampir pasti melibatkan keterampilan dan motivasi dari tenaga kerjanya.
      2. Investasi dalam teknologi khusus bukanlah substitusi dari membina keterampilan tenaga kerja; ia bahkan kadang membuat tenaga kerja makin rawan. Makin banyak tenaga kerja dibutuhkan untuk mengoperasikan peralatan yang lebih canggih dan modern itu, sehingga dengan tingkat investasi yang makin tinggi per pekerja, maka bila terjadi putusnya proses sebentar saja akibatnya makin mahal harus ditanggung. Hal ini mengakibatkan kemampuan untuk mengoperasikan secara berdaya guna, memelihara, serta memperbaiki peralatan tugas-tugas yang biasanya dikerjakan oleh pekerja garis pertama - tambah menjadi kritis.

      3. Investasi dalam teknologi proses membawa keuntungan kompetitif yang terbatas karena mesin tidak membuat barang, manusialah yang melakukannya.

    2. Pasar yang dilindungi dan diatur.
      Jalan lain yang ditempuh untuk mencapai sukses adalah penghindaran persaingan melalui perlindungan dan pengaturan pasar dalam negeri. Namun, gelombang deregulasi, telah menghilangkan tidak sedikit pasar yang dilindungi. Kecuali itu terdapat bukti-bukti bahwa sekali pasar itu diregulasi dan dibuka terhadap persaingan, tidak ada jalan lagi untuk menutupnya atau untuk diatur kembali. Jelaslah bahwa kecenderungan ini hanya merupakan jalan searah. Kembali lagi disini, manusianya menjadi makin penting

    3. Akses kepada sumber-sumber finansial.
      Dengan mengambil keuntungan dari kurang efektifnya pasar modal, kemampuan suatu perusahaan untuk memodalkan dirinya melalui sumber-sumber finasial tertentu memberikan andil perlindungan terhadap kompetitor yang kurang mampu menghadapi tantangan mencapai sumber-sumber keuangan sejenis. Sumber-sumber ini ternyata sudah makin terbuka dengan meningkatnya efisiensi dan efektivitas pasar modal, dimana modal bergerak secara global dalam skala yang tidak terbendungkan. Industri modal ventura kini sekarang sudah berdimensi internasional. Modal sekarang sudah kurang begitu penting lagi sebagai sumber keuntungan kompetitif, karena modal untuk membiayai suatu ide yang baik, ataupun manajemen yang kuat, makin mudah tersedia bagi semua proyek-proyek yang menarik. Kembali lagi disini keterampilan manusia adalah prioritas tertinggi.

    4. Skala ekonomi.
      Skala ekonomi sekarang tidak lagi begitu menentukan seperti sebelumnya. Kurva pengalaman kelompok mempostulasikan bahwa suatu badan usaha yang memulai secara awal sampai pada volume produksi yang besar akan menghadapi biaya-biaya yang kecil pada saat mencapai keuntungan dari proses belajarnya disamping skala ekonomi yang tradisional. Terdapat banyak bukti bahwa sumber keuntungan kompetitif jenis ini makin lama makin menjadi kurang penting. Kecenderungan kearah pasar yang makin berfragmentasi dengan kebutuhan untuk melayani berbagai selera khusus dari sub-segmen tertentu dalam masyarakat, terindera dimana-mana. Pada umumnya teknologi CAD/CAM sejenis yang mempermudah peniruan, ternyata juga memungkinkan untuk merancang dan manufaktur secara ekonomi dalam garis produksi yang diturunkan dari padanya. Demikian pula berlaku bagi waktu penyerahannya. Daripada mendapatkan pelayanan sebulan atau lebih, pengecer yang setia sekarang menuntut hanya 13 hari untuk dipenuhi pesanannya. Dalam jangka waktu dua tahun, waktu tanggap ini akan terus turun menjadi cuma 6 hari.

    Dari sini jelas sekali bahwa begitu sumber-sumber kesuksesan kompetitif berkurang pentingnya, maka yang tersisa dan menjadi faktor dambaan dan yang terandalkan dalam organisasi, adalah karyawannya serta bagaimana mereka bekerja.


  2. Tenet # 2 :
    Pencapaian keuntungan kompetitif melalui manusia, melibatkan secara mendasar, pola perhatian bagi tenaga kerja serta hubungan antara mereka.

    Terdapat dua alasan yang mendasar, bagaimana keberhasilan yang diperoleh dari pembinaan tersebut dapat dipertahankan dan tidak mudah ditiru oleh kompetitor lainnya.


    1. Keberhasilan yang diraih dari pembinaan yang efektif dari tenaga manusia umumnya menyangkut sumbernya tidak mudah terindera. Sekalipun diuraikan dalam berbagai bentuknya, tetap saja sukar dimengerti. Contoh yang jelas terjadi pada Nordstrom, rantai pasar swalayan. Tahun demi tahun Nordstrom terus saja tumbuh. Nordstrom memperkenalkan kompensasi kepada karyawannya dengan sistem komisi. Kompetitor lainnya kemudian meniru. Mengubah sistem komisi tidak dengan sendirinya mengimbangi apa yang dicapai oleh Nordstrom, bahkan tidak pula merubah peta persaingan. Bahkan pada kasus-kasus tertentu, sistem kompensasi ini justru menimbulkan keresahan serta menggairahkan upaya buruh untuk berkelompok membentuk asosasi terutama bilamana sistem ini dinilai tidak adil ataupun dibentuk seenaknya saja.

    2. Budaya bagaimana manusia dibina serta pengaruhnya terhadap sikap dan keterampilannya sering dilayani sebagai sisi lunak dari bisnis, sehingga tidak jarang dilihat dengan sebelah mata, ataupun sering sukar untuk menerima dinamika dari suatu perusahaan tertentu dan bagaimana ia beroperasi, karena cara manusia dibina sering sekali menjadi satu dalam sistemnya. Sangat mudah untuk meniru satu aspek, namun sangat sukar meniru berbagai segi secara utuh dan lengkap. Masalahnya adalah bahwa perubahan itu perlu dilaksanakan secara nalar dan juga karena kemampuan untuk mengertikan sistem dari praktek-praktek manajemen sudah terbendung sejak awal kelahiran manajemen itu sendiri.
      Bukti sejarah memperlihatkan bahwa efisiensi dan efektivitas dari tenaga kerja telah membawa keuntungan keluarannya ribuan kali bagi produksi makanan. 4 persen dari tenaga kerja yang berkaitan langsung dalam pertanian pada tahun 1945 memproduksikan lebih dari 50 % hasil dari tenaga kerja yang sejenis pada tahun 1845 di Amerika Serikat. Hal ini diperlihatkan pada gmb.1. Sebagai pembanding digelarkan juga transformasi yang paralel, menurunnya tenaga kerja yang berkaitan langsung dengan manufaktur dalam ekonomi industri dari 40 % menjadi kurang dari 5 % dalam ekonomi transformasi.


  1. Tenet # 3 :
    Dengan menyatunya kecerdasan didalam manusia, maka pembinaan manusia berarti juga pembinaan kecerdasan. Dengan pengecualian yang kecil sekali, maka ekonomi dan kekuatan menghasilkan, dari badan usaha yang modern lebih banyak terletak didalam kecerdasan serta kemampuan melayani ketimbang aset kerasnya, yaitu tanah, pabrik serta peralatan.

    Secara logika, hampir semua perusahaan publik dan bisnis pribadi - termasuk perusahaan-perusahaan yang cukup berhasil - makin dominan membentuk bayangan dan koordinator dari kecerdasan dalam wujud "basis pengetahuan" atau "badan usaha kecerdasan". Kecerdasan dan pelayanan menyerap nilai-tambah dan mengembalikan keluarannya yang lebih ketimbang tanpa dukungannya.

    Hampir tidak perlu dipertanyakan bahwa keuntungan yang tak terindera seperti basis data, pengetahuan personil, pengetahuan teknologi, jaringan komunikasi, pengetahuan pasar, dikenalnya nama bawaan, kemampuan distribusi, kekenyalan organisasi, dan motivasi yang efektif merupakan aset sebenarnya dari banyak perusahaaan saat ini, serta sumber utama arus pemasukan dimasa mendatang. Namun, sama seperti negara, aset dari infrastruktur kecerdasan dan pelayanan tidak pernah terlihat dalam neraca perusahaan, sering sekali diabaikan oleh konvensi akuntansi. Konvensi demikian yang dirancang pada masa lalu, mendasari pada modal - bukan kecerdasan - adalah sumber daya yang langka dalam persediaan.

    Barangkali layak bila manusialah yang diberikan perhatian pertama, dan kemudian sistem pengetahuan sebagai aset dari perusahaan.

    Banyak perusahaan menyadari akan patennya, hak ciptanya serta nilai namanya sebagai kekayaannya dan memperlakukannya demikian dalam akuntansi modalnya, tapi pada harga (at cost) ketimbang nilai pasarnya. Sebetulnya kebanyakan pengetahuan perusahaan berada disuatu tempat tertentu, seperti dikepalanya periset, insinyur, pekerja produksi, personil pemasaran, pakar fungsional serta para manajer. Yang lainnya tersimpan dalam kemasan paket-paket perangkat lunak, basis data, serta sistem informasi yang mengkodekan dan menyimpan pengetahuan dari perusahaan. Masih ada lagi yang tersimpan dalam tatanan hubungan manusia, komitmen dan pola-pola pengetahuan yang secara kokoh mengikat pemasok dan pelanggan secara berkesinambungan. Basis semuanya ini terletak dalam kemampuan pelayanan dari perusahaan termasuk hubungannya serta penampilannya.


  2. Tenet # 4 :
    Sistem pengetahuan memiliki sifat-sifat tertentu yang dapat dieksploitasikan dalam meraih keuntungan, dimana sebagian besar - sekalipun tidak seluruhnya - pengetahuan perusahaan tersimpan dalam reservoir manusia yaitu kemampuan mengerti kognitip, keterampilan yang terlatih, serta kepercayaan (diri) yang dalam dari pribadi individual.

    Untuk yang pertama, seseorang mengetahui melaksanakan sesuatu tanpa menguasai kecerdasan untuk melaksanakannya secara berhasil dalam persaingan. Atau seseorang dapat saja memiliki keduanya yaitu pengetahuan dan keterampilan untuk berhasil, namun kekurangan rasa percaya diri, kemauan, atau motivasi. Mempersatukan ketiganya merupakan rumus yang tangguh dari beberapa pelatih yang terkenal, wirausahawan, ataupun bisnis umum.

    Suatu sifat yang khusus dari pengetahuan adalah bahwa ia merupakan aset yang tumbuh secara cepat - biasanya menurut garis eksponensial - bilamana dipakai secara bersama. Bilamana saling dibagi dan saling mengasah, maka ia bukan saja memperoleh tambahan informasi yaitu pertumbuhan linear, tapi biasanya melalui catu balik pertanyaan, perkuatan dan modifikasi yang secara sesaat memberikan nilai tambah bagi pengirimnya. Begitu setiap kelompok-penerima, belajar dan menambah pengalaman pada basis pengetahuannya, maka basis tersebut akan bertumbuh, membuka peluang berkembang secara ekponensial yaitu tidak berbeda dengan keyakinan yang dipegang oleh setiap teori kurva belajar. Bentuk eksponensial yang secara matematis menunjukkan sifat dari hubungan jejaring dari setiap individu dikenal dengan istilah "eksternalitas jejaring". Jadi pemakaian bersama dalam jejaring menumbuhkan nilai tambah eksponensial melalui "keuntungan jejaring" terus sampai kepada tingkat dimana individual mencapai titik kejenuhan informasi (network overload).

    Keunikan sifat pengetahuan lainnya adalah bahwa proses kapasitas kecerdasan membutuhkan perubahan yang terus-menerus. Alternatif bagi yang demikian adalah kebosanan dan antropi mental. Non-kecerdasan ataupun sistem mekanikal berjalan baik bilamana sedikit sekali diganggu. Kecerdasan akan justru tumbuh makin baik bila ditantang. Untuk menyuburkannya dibutuhkan pupuk tantangan.


  3. Tenet # 5 :
    Dalam implementasi nyatanya, maka kecerdasan selalu mengarah kepada inovasi, dimana inovasi merupakan pemicu penting untuk mencapai keuntungan kompetitif.

    Inovasi mendapatkan tantangan pertama dalam praktek kehidupan. Resiko besar seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses inovasi. Prosesnya sendiri cenderung menjadi unik, dan penuh dengan kekhaosan, tidak tertata secara teratur ataupun dapat mudah direncanakan. Lingkungan inovasi selalu dinamis, penuh oppotunistik dan penuh ketidakpastian , jadi membutuhkan gaya yang sangat kenyal, tanggap, dan struktur organisasi yang desentralisasi. Namun jangan lupa masalah juga biasanya adalah kompleks, membutuhkan kepakaran tinggi sehingga menuntut sentralisasi dari keterampilan. Organisasi inovasi biasanya bersifat adhoc, mengalir, antar-disipliner, dan kooperatif. Tugas-tugas banyak menentukan relasi ketimbang yang biasanya melalui kewenangan formal, atau sistem. Prosesnya umumnya bersifat khaostik ketimbang tersusun secara tertib profesional, lebih kooperatif ketimbang polikal, dan lebih mengarah kesubyek yang punya tantangan, bervisi, dan berinteraksi dengan pemakai ketimbang didalam profesi. Harus menyadari akan sifat acaknya, khaosnya, dan ketidakteraturan yang menyatu didalam proses inovasi. Pihak yang menerima proses seperti apa adanya dan berupaya untuk mengendalikannya dalam kondisi khaos, kemungkinan besar akan lebih berhasil ketimbang mereka yang berperilaku bahwa ia dapat dibuat secara teratur bila saja dapat dimasukkan beberapa ketarturan kedalam proses. Pengangan yang muncul secara adhoc tepat sekali bagi proses inovasi. Organisasi jejaring atau relasi jejaring, dengan bentuk modulasi secara logik organisasi berbentuk datar kedalamnya, serta hubungan berbentuk sarang laba-laba dalam organisasi pada kondisi tertentu memenuhi persyaratannya.


  4. Tenet # 6 :
    Relasi jejaring yang turun sebagai bentuk penata diri dari organisasi jaman informasi - sama seperti birokrasi memberi warna pada jaman industri, hirarkhi mengendalikan jaman pertanian, serta kelompok kecil menguasai jaman nomadik - adalah pendekatan yang sangat penting dalam menampung motivasi dan inovasi berkembang menuju kepada penampilan yang paling optimal.


    gmb-2
    Struktur organisasi yang diturunkan dari masa pertanian dan industri adalah secara relatif kaku dan hirarkhis. Ilmu manajemen yang konvesional mengajarkan kepada kita bahwa rentang kendali manajemen memiliki batas efektivitasnya. Angka lima sampai tujuh merupakan batas seorang atasan mampu mengendalikan bawahannya. Kondisi ini menciptakan relasi yang linear antara individu dalam organisasi dengan birokrasi sebagai polanya yang paling dominan. Birokrasi sendiri bukanlah suatu dosa : ia hanya terbatas dan memang sebaiknya demikian, untuk fungsi-fungsi dimana ia paling sesuai. Pola pertumbuhan seperti yang tertayangkan pada gmb. 2 adalah menggelarkan pertumbuhannya.


  5. Tenet # 7 :
    Bilamana penampilan manusia menjadi perhatian, motivasi pribadi dan percaya diri perlu memperoleh perhatian utama.


    gmb-3
    Motivasi pribadi dan percaya diri akan tumbuh sejalan dengan terbentuknya pengetahuan kecerdasan. Inisiatif dan inovasi adalah konsekwensi langsung dari kemelekan pengetahuan seseorang. Diturunkan dari Tenet # 4 dan Tenet # 5 tatanan organisasi perlu menyediakan atmosfer yang mendukung dimana harapan dari para anggautanya dibangkitkan. Hubungan linear antarmanusia dari lingkungan birokrasi membatasi berkembangnya kreativitas dan inovasi. Teknologi Informasi memperkenalkan suatu pola. Data dan informasi menuntut relasi langsung yang mengarah secara fisik kepada suatu konfigurasi hubungan sarang laba-laba seperti yang digelarkan pada gmb. 3. Konvergensi (menyatunya) komputing, komunikasi, dan isi (dari informasi), telah membuat mimpi ini menjadi nyata. Pertukaran dan pakai bersama data dan informasi dalam organsinasi telah melahirkan suatu peluang bagi kelompok untuk belajar. Dan seperti telah dikemukakan dalam Tenet # 4 dan Tenet # 5 pengetahuan akan tumbuh secara eksponensial. Persyaratannya adalah percaya diri melalui hubungan yang bernilai manusia. Teknologi informasi yang memicu pola baru ini, juga memperluas landsekap serta lingkup dari belajar-kelompok dalam pengartiannya yang sebenarnya. Hubungan global melalui internet sebagai pemicu utamanya, menawarkan demikian banyak peluang dan kesempatan untuk dimanfaatkan untuk tujuan ini. Teknologi informasi pada dasarnya memperpendek jarak vertikal manajemen sepanjang garis hirarkhis. Sistem informasi yang secara tradisional setia melayani berbagai tingkat-tingkat manajemen dan secara kuat berakar pada setiap batas-batas daerah hirarkhi, menjadi terbuka, berkat cakupan dan capaian dari teknologi informasi. Pada sisi lainnya, maka kebutuhan informasi pada tingkat operasional yang biasanya bersifat sangat terperinci, kini mampu diakses tapi juga ditangani oleh manajemen tingkat atas berkat kemampuan baru dari metoda dan perkembangan dari teknologi informasi. Hal ini melahirkan struktur hubungan yang baru dalam landsekap organisasi. Terpisah dari struktur fisik dan implementasi organisasi, hubungan logikal baru diimbaskan kedalamnya. Maka terwujudlah komunikasi langsung antar tiap individu dalam organisasi, mengarah kepada pertumbuhan pengetahuan secara eksponensial dalam organisasi yang bersangkutan. Manusia sekarang diperlakukan sebagai manusia sebenarnya dengan segala kebanggaannya serta nilainya. Setiap orang dalam organisasi dapat mencapai pimpinan puncak organisasi melalui informasi.

    Organisasi berbentuk datar sekalipun hanya bersifat logikal kelihatannya asing bagi beberapa orang. Dalam kondisi seperti itu, beberapa hubungan jejaring potong segmen atau kombinasinya dapat diperkenalkan. Gmb.4 memperlihatkan suatu pola segmen dari model organisasi yang diperkenalkan oleh sebuah perusahaan kimia.

    Struktur organisasi yang memanfaatkan kekuatan dari birokrasi
    kewenangan hirarkhis dan hubungan jejaring

    gmb-4
    Organisasi ini berupaya untuk memanfaatkan sisi positif dari organisasi birokrasi sekalipun dikonfigurasikan secara longgar. Tim-tim kompetensi inti terbangun melalui kekhususan kelompok-kelompok keahlian yang tersusun secara longgar. Yang membuat bagan perusahaan demikian unik dalam penonjolan kesan organisasi jejaring masa informasi, adalah bagian-bagiannya. Garis tebal dari lingkaran luarnya terkait langsung kepada semua komponen utamanya dan mewakili hubungan langsung antara departemen-departemennya. Dalam ruang yang putih tidak terdapat tulisan penjelasan disitulah terjadi kolaborasi dan pekerjaan terselesaikan. Didalam lingkaran tidak ada seorangpun berkedudukan dipuncak. Lingkaran tebal diluarnya adalah jalur utama yang mewujudkan hubungan kepada semua anggauta dalam organisasi. Lingkaran ini memberi makna akan keseluruhan keterpaduan melalui antar hubungan.

Kata penutup
Kita semua percaya bahwa manusia adalah tulang punggung dari pembangunan. Apa yang berlaku setahun yang lalu belum tentu berlaku saat ini, dan sambil berubah, lingkungan akan berubah lagi. Orang yang melakukan kegiatan pada tahun lalu, kemungkinan besar akan gagal bilamana melaksanakannya seperti itu juga tahun depan. Karena tidak seorangpun dapat memperlambat perubahan yang cepat itu, maka jalan alternatif yang pasti adalah, ikut berselancar dengan perubahan itu sendiri. Hubungan fisikal dari teknologi akan terus meledak - dari hubungan satu kepada banyak kearah hubungan banyak ke banyak - kearah konvergensi digital pada tahun 2201, sehingga memungkinkan manusia berinteraksi dalam alam yang maya, bebas terhadap waktu dan lokasi. Individual akan memberontak terhadap tuntutan yang berprasyarat tinggi yang terus meningkat tidak terputus sehingga kebebasan akan menyebar sejalan dengan berkembangannya kerja sama.begitu organisasi mencapai ukurannya yang optimal, mereka akan memburu pertumbuhan kualitas ketimbang kuantitas. Organisasi akan menempatkan tujuannya sebagai kekayaaan yang bernilai. Mereka akan mendulangnya dengan piranti baru, teknik, metode dan model. Pada akhirnya akan ditemui bahwa pengetahuan adalah pemicu utama dan karena pengetahuan menyatu dengan manusia, kecerdasan perlu diberikan perhatian khusus. Perusahaan perlu membangun kembali loyalitas dan memotivasi ulang personilnya agar manpu melaksanakan pekerja yang penuh inovasi. Organisasi perlu mempelajari bagaimana memanfaatkan bersama dengan semua personilnya informasinya yang penting-penting. Dibalik itu tersirat membludaknya kemurnian pendekatan berteknologi tinggi dalam menghadapi masalah dan tantangan.

Pada tingkat manajemen dari organisasi, maka hubungan antara manusianya cenderung bergeser dari bentuk hirarkhis dan birokratis, ke arah relasi yang bernilai sama antar individu serta yang bernuansa nilai manusia. Modal sosial akan diperlakukan sebagai suatu sumber kesejahteraan baru.

Individual manusia akan tumbuh berkembang dan kepemimpinan baru muncul. Sementara itu mereka yang dipimpin adalah jenis baru pula. Generasi kepemimpinan baru sedang terbina. Mereka berasal dari suatu pool yang berjenis-jenisnya, dengan membawa perbedaan budaya bersamanya. Didalam tangan mereka ekosistem diandalkan untuk dipertahankan yang kita dambakan. Kita dapat mengindera tanda-tandanya, sekalipun terdapat kekuatiran banyak pihak. Jenis manusia baru sedang menuju kearah masa kita kedepan.

Bacaan selanjutnya :



  • Real Change Leaders , John Katzenbach & The Real Change Team (Frederick Beckett, Steven Dichter, Marc Feigen, Christopher Gagnon, Quentin Hope, and Timothy Ling), Nicholas Brealy Publishing, London

  • James Brian Quinn, forword by Tom Peters,"Intelligent Enterprise, A Knowledge and Service Based Paradigm for Industry, The Free Press, A Division of Macmillan, Inc, New York

  • Jeffrey Pfeffer, "Competive Advantage Through People , Unleashing the Power of The Work Force", Harvard Business School Press, Boston, Massachusetts.

  • John Hagel III, "Spider versus spider", Mc Quaterly, 1996, Number 1, page 5.

  • Jeffrey F. Rayport & John J. Sviokla, " Exploiting the Virtual Value Chain", Mc Kinsey Quaterly, 1996, Number 1, page 21

  • Jessica Lipnack & Jeffrey Stamps, "The Age of Network, Organizing Principles for the 21st Century, Omneo, an imprint of Oliver Wight Publications, Inc.

  • James W. Walker, "Human Resource Strategy", McGraw-Hill International Editions, Management & Organization Series, Mc-Graw-Hill, Inc, New York

  • Richard L. Nolan & David C. Croson , " Creative Destruction, Asix-Stage Process for Transforming the Organization", Harvard Business School Press, Boston, Massachussets.

  • Jafar Basri "Sikap dan perubahan fundamental dalam Mengadopsi sistem informasi berbasis jejaring", an article within this "expert column".
< Sebelumnya
Menu Utama
Home
Adi Harsono
Ali Khomsan
Eddy Satriya
Hadi Soesastro
J Soedradjad D.
Jack M. Niles
Mari Pangestu
Mohammad Sadli
Myra Sidharta
Saparinah Sadli
Setyanto P. Santosa
Shanti L.P.
Tanri Abeng
Lain-lain
Katalog
Artikel
Biografi
Artikel/Info Terkait
© Copyright 2005, Pacific Link

Go to the www.pacfiic.net.id Kumpulan Artikel BIOGRAFI