“ ….. karena Bali adalah lambang Indonesia yang terbuka,
Indonesia yang bangga akan diri namun tak membenci apa
yang asing. Karena Bali adalah bagian penting dari kebinekaan
Indonesia yang tak ternilai. Karena Bali adalah sebuah bukti
bahwa berbeda-beda adalah anugerah Yang Maha Agung,
Rakhmat Sang Pencipta ……..”
(Kelompok Solidaritas Bali dalam “Pernyataan Kuta”, 2 Nopember 2002)
LATAR BELAKANG
Pariwisata Indonesia mulai bangkit pada tahun 2000 ; tiga tahun setelah krisis ekonomi menimpa negara ini. Di tahun 1999 hanya ada 4,72 juta wisatawan asing berkunjung ke Indonesia. Angka tersebut meningkat di tahun 2000 sebanyak 5,06 juta dan 5,15 juta di tahun 2001. Diharapkan Indonesia akan menjaring 5,4 juta wisatawan luar negeri pada tahun 2002.

Secara finansial, sektor pariwisata Bali telah menyumbang devisa sebanyak 1,4 milyar dollar AS pada tahun 2001, atau lebih dari 25% penerimaan devisa nasional dari sektor ini yaitu 5,4 milyar dollar AS. Tiga puluh lima persen wisatawan luar negeri berlibur di Bali. Secara keseluruhan, perekonomian Bali bernilai Rp 16,5 triliun atau 1,8 milyar dollar AS di tahun 2000, sama dengan 1,3% dari perekonomian nasional atau 1,8% dari pendapatan non-minyak dan gas bumi.
Secara langsung dan tidak langsung, Bali telah melambungkan sektor pariwisata Indonesia sebagai penyumbang devisa nomor dua terbesar di sektor non-minyak dan gas bumi setelah industri tekstil dan garmen. Pariwisata menyumbang 5,7 milyar dan 5,4 milyar dollar AS di tahun 2000 dan 2001 kepada pendapatan negara. Sektor ini memberi pekerjaan kepada 12 juta orang, yang langsung sebanyak 7,36 juta orang dan tidak langsung sebanyak 3,8 juta orang.

Sumber : Badan Pusat Statistik
Dari hotel dan restoran saja, yang berhasil menyumbang pendapatan terhadap perekonomian Bali sebanyak 21 persen, Bali telah menciptakan 58 ribu peluang kerja (sama dengan 3,3% dari jumlah tenaga kerja) atau hampir 1/10 dari tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor ini. Rata-rata lama tinggal wisatawan di Indonesia adalah 10 hari sedangkan pengeluaran harian rata-rata adalah hampir 125 dollar AS.

Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, pariwisata Pulau Bali baik untuk pasar domestik maupun asing telah dapat menggabungkan antara kegiatan liburan dengan urusan bisnis. Sangat menguntungkan karena Bali mempunyai cukup banyak pilihan tempat tinggal dengan standar internasional (sekitar 1400 hotel dengan lebih dari 37.000 kamar) yang menawarkan layanan beragam untuk kegiatan bisnis maupun liburan. Lebih dari 2,5 juta orang wisatawan asing maupun domestik mengunjungi Bali untuk dapat menikmati sinar matahari di pantainya atau mengagumi kekayaan budayanya.

Dalam hal peringkat negara asal wisatawan, Australia telah menduduki peringkat teratas dari tahun 1996 sampai tahun 1999. Sesudah 1999, wisatawan Jepang berturut-turut menjadi peringkat teratas disusul oleh Australia, Taiwan, Jerman dan Inggris sehingga kelima negara tersebut menjadi 5 pasar utama wisata kita.

Bulan Juni sampai Oktober merupakan bulan-bulan puncak sedangkan dari Januari sampai Mei, hotel-hotel di Bali dipenuhi oleh wisatawan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition).

Patut dicatat di sini, bahwa pada tanggal 16 Oktober 2002, empat hari setelah kejadian yang memprihatinkan itu, Bali dianugerahi oleh majalah TIME dengan TIME Award sebagai “Destinasi Favorit Teratas tahun 2002” (“Most Favorite Destination in 2002”) berdasarkan sebuah survai di antara pembacanya di seluruh dunia. Pemberian anugerah dilaksanakan di Singapura dan Setyanto P. Santosa, Kepala Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata menerima Award tersebut bersama A.A. Gede Rai, Penasihat pada Badan Pariwisata Bali.

Setyanto P. Santosa, Andrew Butcher (President, International Publisher) dan A.A. Gede Rai
CITRA YANG MENJADI PORAK PORANDA
Citra Pulau Bali khususnya dan pariwisata Indonesia umumnya menjadi porak poranda setelah ledakan terjadi di Kuta, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 pukul 23.25 WITA.
Sampai saat ledakan itu, Bali terkenal dengan reputasinya sebagai pulau yang penuh kedamaian dan juga sebagai destinasi turis yang aman. Walaupun filsafat bahwa harmoni kehidupan yang menjadi panutan masyarakat Bali yaitu “Tri Hita Karana” (harmoni antara manusia dengan Tuhan YME, antara manusia dan manusia, antara manusia dan alam) tetap kental, hati masyarakat Bali terluka.
Tak dapat dilupakan adalah usaha anggota masyarakat di sekitar Denpasar baik nasional maupun internasional yang telah dengan suka rela dan tidak mengenal waktu serta tidak mengenal lelah membantu evakuasi dan identifikasi para korban. Kebersatuan nampak dari usaha-usaha kemanusiaan tersebut dan berbagai pernyataan duka yang disampaikan oleh banyak anggota masyarakat baik di dalam maupun luar negeri.
Sebulan setelah kejadian tersebut yaitu pada tanggal 15 November 2002, masyarakat Bali mengadakan upara pensucian yang dinamakan “Pemarisudha Karipubhaya” di Legian, Kuta di tempat kejadian. Secara paralel masyarakat Indonesia beserta masyarakat pencinta Indonesia dan Bali di New York, A.S. juga mengadakan upacara peringatan bagi para korban yang tewas dengan mengambil tempat di sekitar Ground Zero, New York dimana terorisme juga telah merenggut beribu nyawa bulan September tahun lalu. Untuk acara tanggal 15 November ini pemerintah Indonesia dibantu oleh Garuda Indonesia Airlines, Singapore Airlines dan pemerintah provinsi Bali mengundang keluarga para korban dengan memberikan penerbangan dan akomodasi cuma-cuma.
Wakil Gubernur Bali I Gusti Bagus Alit Putra sangat mengharapkan bahwa setelah upacara ini, Bali akan bangkit, citra pariwisatanya akan pulih dan kepercayaan masyarakat Indonesia dan internasional atas Bali sebagai destinasi yang menarik dan aman akan terbina kembali.
DAMPAK YANG MEMPRIHATINKAN
Masyarakat Internasional telah memfokuskan perhatiannya pada wisatawan-wisatawan Barat yang tewas dalam peristiwa itu. Tapi masyarakat Bali telah menderita luka yang pedih dan dalam serta sangat mengkhawatirkan masa depan perekonomian mereka.

Segera setelah kejadian tersebut, pemerintah Jepang mengeluarkan travel warning bagi warga negaranya yang diikuti oleh pemerintah Australia, Taiwan, Inggris dan Jerman. Menurut data dari kantor Gubernur Bali, tingkat hunian “terjun bebas” ke tingkat 18% pada 26 Oktober, dari 70% sehari sebelum kejadian. Beberapa hotel utama di pulau tersebut mencatat tingkat hunian dengan satu digit jauh di bawah tingkat perkiraan tingkat hunian 20-30% untuk dapat beroperasi mencapai titik impas. Sementara itu Menteri Tenaga Kerja memprediksi bahwa sekitar 130.000 pekerja hotel dan pariwisata akan di-PHK-kan dalam tempo satu bulan. Kejatuhan pariwisata akan menghancurkan perekonomian di Bali, karena hampir seluruh populasi di sana yaitu 3,2 juta orang bergantung secara langsung atau tidak langsung pada pariwisata sebagai pegangan hidupnya. Tragedi inilah yang tidak dipedulikan oleh para pelaku kejahatan dan duniapun tidak akan melihatnya.
Yang sangat mengkhawatirkan juga adalah jumlah kedatangan wisatawan ke Bandara Internasional Ngurah Rai. Rata-rata kedatangan adalah 4.650 orang sehari dalam 2 minggu sebelum kejadian. Pada tanggal 14 Oktober, kedatangan internasional naik sampai 5.219 orang terutama karena masuknya petugas-petugas kepolisian, wartawan, dan para petugas kesehatan dari manca negara. Pada tanggal 15 Oktober, kedatangan menurun drastis sampai 2.833 dan pada tanggal 30 Oktober tercatat hanya 750.

Ketika pembatalan kelompok wisatawan dan wisatawan individu seperti menggelombang seminggu setelah kejadian, pemesanan paket liburan ke Bali menetes lemah dan memberikan bayangan panjang akan “paceklik” yang akan menimpa pulau ini.
MEMBANGUN KEMBALI CITRA PARIWISATA INDONESIA
Langkah-langkah yang telah diambil
Segera setelah kejadian yaitu pada tanggal 13 Oktober, Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata mendirikan Media Center di Jakarta dan Bali yang berfungsi untuk pusat komunikasi dan informasi untuk pers, industri pariwisata dan publik. Beberapa konperensi pers telah dilaksanakan di sini termasuk yang diadakan oleh PM Australia, John Howard. Pada tanggal 23 Oktober, Badan Pengembangan Pariwisata telah bertemu dengan perwakilan 7 tour operator terbesar Eropa di Nusa Dua untuk mendiskusikan langkah-langkah yang perlu untuk mengatasi masalah yang terjadi.
Langkah-langkah yang telah diformulasikan adalah sebagai berikut :

Dalam pertemuan APEC di Meksiko tanggal 26 dan 27 Oktober 2002, presiden Megawati telah meminta kepada para kepala negara untuk segera membatalkan travel ban dan travel advisories yang dikenakan bagi para warga mereka setelah ledakan bom di Bali.
Presiden mengingatkan bahwa dengan memberlakukan langkah-langkah itu, maka akan terjadi kepanikan sosial dan politik, yang akan menguntungkan dan memenangkan para pelaku teror serta akan mendorong perbuatan teror lain di masa yang kan datang.
Pada tanggal 24 Oktober telah diadakan “ beauty contest ” di antara Konsultan Kehumasan di Jakarta di kantor Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata. Ini dimaksudkan agar Konsultan Kehumasan yang terpilih dapat bekerja bahu membahu dengan Badan dalam meng-akselerasi pemulihan citra pariwisata Indonesia, khususnya sebagai crash program pariwisata domestik sampai akhir Desember 2002. Pemilihan diadakan berdasarkan kriteria : kedalaman pengertian akan misi pariwisata Indonesia khususnya dalam keadaan terpuruk ini, kreativitas program dan efisiensi biaya.
Pada tanggal 4 Nopember dalam Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, Presiden Megawati kembali mengulang himbauannya untuk membatalkan travel warning untuk Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Pada saat bersamaan para kepala negara ASEAN bersepakat untuk menanda tangani sebuah perjanjian internasional untuk lebih meningkatkan secara “ seamless” perjalanan intra-ASEAN, mempromosikan pariwisata regional secara joint-promotion , dan sepakat untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi mendatang di Bali pada tanggal 8 Oktober 2003.
Solidaritas Internasional
Organisasi PATA (Pacific Area Tourism Organization), organisasi terbesar di wilayah Asia Pasifik telah mengambil langkah strategis untuk mengendalikan dan mengatasi krisis di bawah kepemimpinan Peter A. Semone, Wakil Presiden PATA yang berada di Bali dari tanggal 13 sampai 17 di Bali. PATA juga akan mendirikan Gugus Tugas khusus untuk rencana pemulihan jangka panjang pariwisata dan mulai bekerja pertengahan Desember mendatang.
Konperensi PATA masih akan tetap dilaksanakan di Bali pada tanggal 13-17 April 2003, dan sekitar 1500 sampai 2000 peserta diharapkan akan menghadirinya.
Pada tanggal 11 November, Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata menghadiri World Tourism Mart di London, dimana delegasi Indonesia mengadakan konperensi pers yang disambut baik oleh pers manca negara. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata diwawancarai oleh BBC-TV mengenai dampak kepariwisataan dan upaya pemulihannya dan ditayangkan di seluruh dunia pada tanggal 12 November pukul 06.30 WIB.
Untuk keperluan World Travel Mart di London 11 November dan China Travel Mart Shanghai 15 November, Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata telah menerbitkan sebuah booklet yang berisikan position paper untuk disebarkan di kedua kota tersebut dan juga untuk dibagikan di antara wisatawan-wisatawan di Bali pada saat dilaksanakannya upacara “Pemarisudha” tanggal 15 November.
MELANGKAH KE CAKRAWALA BARU
Bantuan Luar Negeri
Duta besar Jepang Yutaka Limura menyimpulkan perasaan para donor dan berkata “kami sebagai CGI, ingin memberi sinyal yang jelas kepada negara ini dan kepada masyarakat internasional bahwa ketika akselerasi reformasi amat diperlukan, kami bermaksud untuk tetap meneruskan dukungan kami dalam upaya-upaya reformasi di Indonesia”, sambil menggaris bawahi bahwa “di luar langkah-langkah keamanan yang solid, mempercepat reformasi struktural, memperbaiki cara berpemerintahan yang baik dan mengembalikan iklim investasi sangatlah perlu untuk landasan pertumbuhan dan pembangunan.”
Anggota-anggota CGI juga telah mendiskusikan cara-cara untuk memberikan dukungan khusus kepada Bali untuk mengatasi dampak terburuk dari ledakan bom itu terhadap perkekonomiannya. Banyak bantuan khusus yang telah ditawarkan. Respon dari para anggota CGI nampaknya akan meliputi langkah-langkah proteksi mata pencaharian di Bali dan di wilayah-wilayah lain yang perekonomiannya bergantung pada pariwisata. Sebagai tambahan dari sumber-sumber hibah dari donor bilateral, sumber-sumber lain dari operasi yang sedang berlangsung yang dibiayai oleh organisasi multilateral termasuk hibah bilateral dengan co-financing akan diarahkan kembali untuk mendukung infrastruktur dan investasi yang menghasilkan pekerjaan (employment generating investments). Hal ini penting untuk mengurangi tekanan dampak penurunan mata pencaharian yang bergantung pada bidang pariwisata. Dukungan juga akan diberikan untuk sektor kesehatan dan pendidikan.
China, Korea Selatan dan Jepang telah memastikan pemberian bantuannya untuk pariwisata Bali agar segera memulihkan citranya sebagai destinasi wisata utama.
Upacara Pensucian Pemarisudha Karipubhaya : Bangkit dari Nestapa
Pada tanggal 15 Nopember 2002, acara yang sangat dinanti-natikan yaitu Upaca Pensucian Pemarisudha Karipubhaya di tempat terjadinya musibah dilaksanakan. Upacara tersebut diselenggarakan dan dihadiri oleh masyarakat Bali. Acara Pemarisudha merupakan ritual agama Hindu Bali yang berarti pensucian atas roh-roh jahat yang menjadi penyebab musibah yang sangat menyedihkan ini agar keseimbangan dan harmoni dari “Tri Hita Karana” kembali. Acara ini dipimpin oleh pedanda agung Hindu dan lebih dari 100 pedanda lain juga ikut serta. Air yang dipercikkan di tempat tersebut berasal dari tempat-tempat yang disucikan di sekitar Bali. Masyarakat melarungkan beberapa ekor khewan kurban ke laut sebagai pertanda agar roh-roh jahat dipuaskan. Acara itu berakhir di sebuah pura di bibir pantai Kuta ketika beberapa benda secara simbolis dilarungkan ke laut dan dibawa ombak ke Samudra Hindia.
  
 
Upacara Peringatan di Ground Zero di New York City, AS
Pada hari yang sama, di tempat yang berjarak 40.000 kilometer dari Kuta, pada sebuah pelabuhan di New York yang sepi berhiaskan matahari terbenam di kejauhan, masyarakat Indonesia dari sekitar New York dan daerah Pantai Timur Amerika menyelenggarakan upacara serupa untuk memperingati musibah ini. Mereka mengingat kembali para korban, berdoa dan menyalakan lilin-lilin seperti juga masyarakat Amerika yang melakukannya ketika Menara Kembar di sana hancur berguguran ke tanah karena perbuatan tak bertanggung jawab dari para teroris.
  

sumber : Bidang Penerangan, Konsulat Jendral Indonesia – New York
Dengan persamaan nasib yang begitu tragis serta kesedihan yang sama dalamnya bagi masyarakat di kedua tempat ini, Bali dan New York City, kepala Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata berkeinginan sekali untuk membagi pemikirannya dengan masyarakat Amerika. Pemikiran ini adalah untuk mendirikan persaudaraan antara kedua kota tersebut dalam bentuk “kota kembar”. Keduanya sedang menantikan cakrawala baru di mana masyarakat dari semua ras dan kepercayaan dapat bercampur dan bersahabat tanpa rasa takut, menantikan lingkungan yang damai dan menantikan dunia yang lebih baik.
Penutup
Terorisme dapat menyerang siapa dan di mana saja. Dapat terjadi di sebuah teater di Rusia ketika seluruh penontonnya dijadikan sandera, atau ketika seorang penembak jitu mengincar anak-anak dan para wanita di Amerika Serikat atau di sebuah jalan yang ramai dengan wisatawan di Bali. Spirit pariwisata tak boleh dihancurkan oleh terorisme, karena bila hal itu sampai terjadi maka tujuan utama terorisme itu dikatakan tercapai dan berhasil.
Dengan dukungan yang mantap, terutama dari negara-negara tetangga ASEAN, pariwisata negeri ini pasti akan segera bangkit kembali. Semua upaya untuk menghidupkan kembali citra yang porak poranda akan dilaksanakan demi menghidupi beberapa juta orang yang penghasilannya bergantung pada kepariwisataan. Dengan demikian Indonesia merasa optimis bahwa target kedatangan 7,35 juta dan 10 juta wisatawan di tahun 2005 serta 2007 dan pendapatan sebesar 8 milyar dollar AS yang direncanakan semula akan tercapai. Bersama anda juga, kami ingin mendoakannya untuk semua.
Jakarta, Akhir Nopember 2002
Pernyataan Kuta *)
Kami berkumpul di sini untuk menyatakan sesuatu yang kami rasakan, ketika malam itu di Kuta bom meledak dan membunuh 200 manusia. Tak seorang pun, kecuali mungkin para pembunuh, yang tahu untuk apa -- ya, untuk menegakkan apa -- pembunuhan yang buas itu dilakukan.
Kami sedih, kami cemas, dan kami ingin melawan putus asa. Kami sedih karena malam itu ada 200 orang yang sedang bertamu ke pulau ini, orang-orang yang tidak menyatakan permusuhan kepada siapa pun, namun seketika dibinasakan.
Kami sedih karena bom itu juga merusak harapan Indonesia, tanah air yang sedang dalam cobaan ini. Kami cemas karena harapan itu terancam.
Bertahun-tahun kami mendambakan Indonesia yang berani hidup dalam kemerdekaan. Kami mencita-citakan Indonesia yang bisa mengelola konflik-konfliknya tanpa senjata, darah dan kebencian. Kami berdoa agar berakhirlah kekerasan yang sejak bertahun-tahun dilakukan di tanah air ini, dari Aceh sampai dengan Papua, dari Maluku sampai dengan Jawa, dari Kalimantan sampai dengan Sulawesi, dari Sumatera sampai dengan Timor. Begitu banyak jiwa yang hilang, begitu banyak keluarga yang hancur dan sanak-saudara yang terusir. Kami ingin berseru, hentikanlah semua itu! Tapi bom meledak di Kuta, dan seruan itu seakan-akan ikut lumat dihancurkan.
Jika Bali penting bagi kami, bukan saja karena rakyat pulau ini telah memberi inspirasi kepada kami agar menyambut hidup dengan cara yang indah dan sederhana. Tapi juga karena Bali adalah lambang Indonesia yang terbuka, Indonesia yang bangga akan diri namun tak membenci apa yang asing. Karena Bali adalah bagian penting dari kebhinekaan Indonesia yang tak ternilai. Karena Bali sebuah bukti bahwa berbeda-beda adalah anugerah Yang Maha Agung, rakhmat Sang Pencipta.
Kami juga datang dari latar belakang yang berbeda-beda, baik daerah, suku, etnisitas, agama, maupun tradisi. Tapi kami semua sedih, kami semua cemas. Kami cemas bila kekerasan tidak bisa lagi dihentikan. Kami cemas bila kebencian jadi pola yang sah dan pembunuhan jadi cara umum untuk menyatakan pendapat. Kami cemas bila terror jadi alasan untuk menyebarkan purbasangka dan mematikan kemerdekaan.
Karena itu kami hadir di sini. Tapi kami ada di sini bukan hanya untuk berbagi rasa murung dan suram. Kami datang juga untuk mengajak agar kita bersama-sama melawan putus asa. Kami ingin berkata kepada para teroris bahwa kami tidak rela bila cara-cara mereka berhasil. Kami ingin agar mereka hancur dan enyah.
Kami percaya bahwa untuk bisa hidup bersama-sama, cara yang beradab harus menang.
Kami datang juga karena kami mencintai saudara-saudara kami di Bali -- sebagaimana kami mencintai saudara-saudara kami di Aceh, Maluku, Papua, Sulawesi, Kalimantan dan di mana saja yang remuk redam karena kekerasan. Kami datang untuk menyatakan bahwa meskipun harapan kami guncang, kami masih sanggup mencintai negeri ini; justru karena ia sakit, justru karena ia menderita…
Semoga Tuhan bersama kita di saat seperti ini. Semoga Tuhan melindungi Bali. Semoga Tuhan melindungi Indonesia.
Bali, 2 November 2002.
Catatan: Pernyataan ini ditulis oleh budayawan Gunawan Mohamad, dibacakan bergantip-ganti oleh lima orang. Setiap bagian (satu atau dua aliena) ditandai dengan huruf yang berbeda untuk masing-masing pembaca. Alinea terakhir dibaca berbareng oleh kelima orang itu
|