|
Dibacakan oleh Prof. Dr. Saparinah Sadli, pada Seminar "Menegakkan Kembali Jati diri dan Harga diri Bangsa melalui Pendidikan Nasional", di Balairung UI, Kampus UI Depok, Sabtu 2 Meti 1998
Krisis ekonomi dan politik di Indonesia saat ini telah menuntut kita sebagai bangsa untuk segera melakukan reformasi di seluruh bidang kehidupan. Mengingat bahwa pendidikan amat berperan dalam mengembangkan manusia yang dilahirkan sebagai mahluk biologis menjadi manusia yang berbudaya dan berwatak (memiliki karakter), dipandang perlu untuk melakukan reformasi di bidang pendidikan.
Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 1998 kita peringati ditengah-tengah krisis moneter dan politik adalah saat yang tepat untuk menyadarkan kita bahwa sebagai bangsa yang sedang membangun kita menghadapi tantangan berat, mengingat:
- Dampak dari krisis moneter adalah bahwa hak warga negara untuk memperoleh pendidikan tidak seluruhnya dapat dipenuhi;
- Memasuki abad ke 21, sistem pendidikan nasional harus memegang peranan penting dalam mempersiapkan tunas-tunas bangsa yang unggul, perempuan dan laki laki, dalam menghadapi tantangan zaman; suatu hal yang karena krisis moneter dan politik akan makin sulit dilaksanakan.
- Kita perlu mengakui bahwa sistem pendidikan kita berkontribusi terhadap yang saat ini terjadi pada bangsa kita. Oleh karena itu kita perlu melakukan koreksi diri, sekaligus memikirkan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menegakkan kembali jati diri bangsa Indonesia.
Berdasarkan keprihatinan yang mendalam atas situasi yang dihadapi bangsa Indonesia maka kami, Ikatan Alumni Universitas Indonesia, menyatakan hal-hal seperti berikut : - Mendesak dan menuntut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk menciptakan lingkungan belajar yang optimal bagi anak didik, serta menghapus lingkungan belajar dan sistem pendidikan yang tidak memberi kesempatan pada anak didik di berbagai tingkat untuk mengembangkan kreativitasnya dalam berfikir, dan yang mengekang mahasiswa khususnya dalam menyatakan pemikiran dan aspirasinya sebagai tunas bangsa yang peduli pada kejadian di sekitarnya.
Sistem pendidikan Indonesia dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi (saat ini tidak ) harus mendorong pengembangan potensi dan kreativitas anak didik. Satu hal penting yang perlu dilakukan adalah memperhatikan pemenuhan kebutuhan guru-guru yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Perwujudan kreativitas peserta didik, seperti upaya mahasiswa di berbagai perguruan tinggi untuk menyuarakan keprihatinan terhadap krisis ekonomi dan politik, harus ditanggapi secara positif.
- Mendesak Pemerintah (BAPPENAS) agar di tengah-tengah krisis yang juga berdampak pada berkurangnya kesempatan memperoleh pendidikan, untuk juga mencarikan dan menyediakan dana pendidikan khusus (seperti untuk program padat karya) agar hak setiap anak didik, perempuan dan lakil laki, untuk memperoleh pendidikan sesuai potensi dan minatnya dapat terpenuhi.
Penyediaan dana khusus yang dapat membantu anggaran pendidikan nasional merupakan salah satu prasyarat yang dibutuhkan untuk dapat mensukseskan wajib belajar 9 tahun dan untuk membantu mahasiswa yang sudah berada di tingkat terakhir menyelesaikan studinya. Mengingat bahwa korupsi dan kolusi masih umum terjadi, sumber dan kontrol terhadap penyaluran dana tambahan bagi pendidikan perlu dibuat transparan.
- Mendesak BAPPENAS, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Luar Negeri, dan Duta Besar-Duta Besar Indonesia di luar negeri untuk membantu mencarikan solusi bagi pra mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri dan terancam tidak dapat menyelesaikan pendidikan mereka.
Krisis moneter sangat berdampak terhadap kelangsungan belajar mahasiswa di luar negeri. Kegagalan untuk meneruskan pendidikan dapat memunculkan masalah-masalah baru. Mengingat mahasiswa adalah asset negara dan calon pemimpin bangsa, pemerintah perlu melakukan langkah-langkah konkrit dalam membantu mahasiswa yang belajar di luar negeri untuk tetap dapat melanjutkan pendidikannya dalam masa-masa yang sulit ini. Misalnya: membantu mengkoordinasi tempat tinggal, maupun dengan cara mencari solusi bersama pejabat pemerintah di negara -negara di mana mahasiswa belajar . Tujuannya: menemukan cara-cara yang dapat dilakukan bersama untuk meringankan beban ekonomi mahasiswa, dan tidak terhentinya pendidikan yang sedang diikuti.
- Mendesak Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat untuk menginstruksikan pada semua Menteri di bawah koordinasinya untuk bersama-sama mengambil langkah-langkah konkrit yang ditujukan untuk mengembangkan kondisi sosial-budaya yang kondusif bagi tercapainya kemajuan pendidikan wanita yang lebih menyeluruh, dan tercapainya keadilan jender.
Harus diakui bahwa pendidikan perempuan makin meningkat di tahun-tahun belakangan ini, yang memungkinkan perempuan untuk mengaktualisasikan potensinya dengan lebih baik dan menyumbangkannya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. Meski demikian, peningkatan pendidikan perempuan hingga sekarang belum dibarengi perubahan sosial-budaya dan nilai-nilai yang diperlukan untuk mencapai keadilan jender, yaitu suatu lingkungan sosial-budaya yang tidak mendiskriminasi wanita di berbagai bidang kehidupan. Untuk itu harus diupayakan perubahan-perubahan dalam aturan-aturan yang membatasi posisi dan peran wanita, misalnya : tidak menganggap bahwa perempuan hanya pencari nafkah kedua dengan berbagai konsekuensi negatifnya seperti menganggap perempuan bekerja, terlepas dari status perkawinannya, sebagai lajang. Juga penting untuk mengembangkan kesadaran pada laki-laki bahwa keluarga adalah tanggungjawab bersama suami-istri.
- Mendesak Menteri Dalam Negeri dan Menhankam/Panglima ABRI untuk menyelidiki dan mengambil tindakan segera pada semua pihak dan oknum yang terlibat dalam masalah orang dan mahasiswa hilang, dan melaporkan hasil temuannya secara terbuka pada masyarakat serta memproses secara hukum. Hal ini perlu dalam rangka menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif bagi proses pengembangan manusia Indonesia yang berwatak.
Masalah mahasiswa dan orang hilang di Indonesia telah menimbulkan kecemasan dan ketakutan yang meluas dalam masyarakat, dan menjadi bukti adanya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang serius, di tinjau secara nasional dan internasional. Penanganan masalah ini secara sungguh-sungguh oleh Pemerintah akan menjadi bukti bahwa pemerintah berpihak pada hukum dan kebenaran. Sikap ini juga diperlukan untuk perbaikan kondisi politik yang diaharapkan berdampak positif pada usaha Pemerintah mengatasi krisis kepercayaan dan dapat sekaligus mengembangkan kembali iklim belajar yang positif.
Pemerintah bersama ABRI perlu membuktikan pernyataannya bahwa Pemerintah dan ABRI selalu berpihak pada rakyat. Caranya adalah dengan melakukan tindakan konkrit untuk membuktikannya, dengan mengusut secara tuntas dan tanpa pandang bulu dan secara terbuka keterlibatan pihak-pihak mana pun dalam peristiwa orang dan mahasiswa yang hilang. Tindakan konkrit ini merupakan suatu hal yang sangat mendesak dan tidak dapat diabaikan oleh Pemerintah dan ABRI.
- Menuntut Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan/pengusaha yang melanggar ketentuan bahwa pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri ( TKI/TKW) harus dibekali dengan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kesiapan, ketrampilan dan pemberdayaan pekerja.
Dalam memasuki era industrialisasi, motivasi angkatan kerja Indonesia untuk bekerja di luar Indonesia akan makin meningkat. Pemerintah wajib melindungi hak-hak mereka dan menertibkan serta menindak tegas oknum-oknum yang melanggar ketentuan tentang pengiriman tenaga kerja. Seperti memperkuat ketentuan bahwa setiap tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri harus dipersiapkan dengan pendidikan dan latihan untuk meningkatkan ketrampilan yang ia perlukan. Dalam rangka melindungiTKI/TKW yang akan dikirim ke luar negeri Pemerintah juga perlu menyediakan program pendidikan dan pelatihan yang mempersiapkan calon pekerja hidup dalam lingkungan sosial budaya yang berbeda. Masuk menjadi bagian penting dalam pendidikan persiapan untuk bekerja di luar negeri adalah penjelasan tentang hak-hak serta langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk memperoleh akses kepada bantuan hukum yang memadai bila mereka mengalami masalah.
- Mendukung Menteri Kehakiman yang sedang mengupayakan penegakan tonggak-tonggak hukum negara Republik Indonesia, dan mengembalikan lembaga peradilan menjadi benteng bagi warga masyarakat yang mencari keadilan.
Tegaknya kebenaran dan adanya jaminan hukum bagi seluruh rakyat Indonesia adalah dasar bagi keberhasilan Indonesia mengatasi krisis ekonomi dan politik ini. Untuk itu, upaya Menteri Kehakiman untuk menegakkan hukum haruslah didukung penuh oleh seluruh lapisan masyarakat dan seluruh sektor pemerintahan. Penegakan hukum yang konsekuen adalah bagian yang mendasar bagi pendidikan generasi muda tentang negara hukum. Sedangkan perwujudan negara hukum adalah kebutuhan mendasar setiap warga.negara.
- Mengajak ILUNI Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi untuk turut memberi bantuan medis dan psikologis serta ILUNI Fakultas Hukum untuk memberi bantuan hukum bagi korban dan keluarganya yang telah secara paksa 'dihilangkan'.
ILUNI sebagai produk pendidikan Universitas Indonesia wajib peduli terhadap korban dari berbagai pelanggaran HAM. Mereka hingga saat ini lebih mendapatkan bantuan yuridis, sedangkan bantuan medis dan psikologis perlu juga diulurkan namun belum banyak disediakan. Untuk itu ILUNI ketiga fakultas di atas perlu segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk menampung dan mengisi kebutuhan ini.
Sembilan butir pernyataan di atas disampaikan oleh Ikatan Alumni Universitas Indonesia untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap krisis nasional yang sedang dihadapi bangsa. Peringatan hari yang penting dalam sejarah bangsa Indonesia ini diharapkan dapat menjadi momentum yang tepat untuk melakukan refleksi atas kondisi kehidupan berbangsa yang sedang mengalami krisis, dengan melakukan kritik yang bertanggungjawab menuju perubahan/reformasi.
2 Mei 1998 Ketua ILUNI Dr. Haryadi Dermawan |