|
Ditulis oleh Sadli
|
|
Senin, 13 Desember 2004 |
|
Dalam bahasa Inggris ada pepatah yang sangat relevan untuk ekonomi, yakni “You cannot have the cake and eat it too”. Dalam bahasa Indonesia tidak ada yang setara sehingga terjemahannya kedengaran agak aneh. Tetapi, fenomena ini sering menjangkit ucapan-ucapan ekonomi. Salah suatu contoh adalah ucapan yang belakangan ini sering terdengar, yakni bahwa harga BBM perlu dinaikkan untuk menambah pengeluaran untuk pendidikan, kesehatan, dsb-nya. Tampaknya cukup logis, akan tetapi, alasan pertama harga BBM harus dinaikkan adalah untuk mengurangi defisit anggaran belanja pemerintah. Ini ada hubungan dengan sasaran untuk berangsur-angsur menurunkan defisit sehingga akhirnya bisa nol. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Sadli
|
|
Senin, 29 November 2004 |
|
Sejak dua menteri perempuan masuk di kabinet ekonomi, yakni Mari Elka Pangestu dan Sri Mulyani Indrawati, maka tak banyak terdengar dari garis kebijaksanaan mereka. Sri Mulyani Indrawati sebagai Kepala Bappenas mempunyai peran yang lebih luas, karena harus menggariskan rencana pembangunan jangka menengah, dan keperluan (100 hari pertama) jangka pendek harus searah dengan jurus jangka menengah, paling sedikit untuk lima tahun perioda kepimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sri Mulyani adalah seorang ekonom yang spesialiasinya ekonomi makro dan moneter, akan tetapi sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan harus juga bisa mengaitkannya dengan pembangunan sektor riil. Kaitan antara sistim ekonomi makro dan perkembangan ekonomi sektor riil ini sejak krisis ekonomi tahun 1998 agak lepas. Keseimbangan ekonomi makro sudah pulih kembali akan tetapi perkembangan sektor riil masih kurang darahnya. Kemampuan sektoral memanfaatkan pinjaman luar negeri juga merosot. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Sadli
|
|
Senin, 22 November 2004 |
|
Sebelum berangkat ke Santiago de Chile untuk menghadiri pertemuan puncak APEC maka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pertanggunganjawab atas hasil 100 hari pertama pemerintahnya. Esensi pesannya adalah bahwa dalam 100 hari Pemerintah tidak bisa diharapkan menyelesaikan segala persoalan nasional. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Sadli
|
|
Senin, 08 November 2004 |
|
Setelah Pemerintah SBY-JK berusia satu minggu pada hari Kamis, 28 Oktober, maka setelah sidang kabinet pleno pertama diumumkan rencana kerja 100 hari. Kalau ini batu ujian pertama dari kinerja kabinet baru maka para pendukung Presiden Yudhoyono hendaknya jangan terlalu kecewa. Perjalanan masih panjang. Yang bikin cepat kecewa orang adalah ekspektasi yang terlalu tinggi, seperti juga diingatkan oleh Menteri Kepala Bappenas, Sri Mulyani Indrawati, ketika bertemu dengan DPD. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh Sadli
|
|
Senin, 08 November 2004 |
|
Minggu yang lalu kami komentari gebrakan 100 hari pertama Pemerintah. Salah suatu kesimpulan adalah bahwa tidak banyak kejutan. Yang menjadi “kejutan” bahkan pernyataan bahwa harga BBM tidak akan dinaikkan. Yang dijanjikan kepada masyarakat, terutama kaum usaha, adalah amnesti pajak dan pengurangan pajak penjualan atas beberapa barang. Jadi, yang enak-enak saja diiming-imingkan kepada masyarakat sedangkan pemerintah belum bersedia, atau berani, melakukan tindakan yang bisa bikin sakit. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 73 - 81 dari 130 |