|
Ditulis oleh M. Sadli
|
|
Jumat, 11 November 2005 |
|
(Business News, Senin, 14 November 2005)
Tingkat inflasi untuk bulan Oktober 2005 yang sangat tinggi itu (8,75%) masih membuat prihatin banyak kalangan. Karena ada yang disebut core inflation, atau inflasi inti, oleh Bank Indonesia yang besarnya sekitar 7-8% setahun maka kedua pengaruh inflasi ini secara agregatip menimbulkan inflasi lebih dari 15% setahun. Maka arti inflasi harus disikapi. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh M. Sadli
|
|
Rabu, 09 November 2005 |
|
(Kompas, Selasa 8 November 2005)
Akhir bulan yang lalu masyarakat terkejut karena inflasi bulanan melonjak sampai 8,75%. Untuk inflasi satu bulan ini sangat, sangat tinggi. Inflasi 8,75% setahun saja sudah tidak bisa dibilang inflasi rendah. Tetapi, ekonomi Indonesia sering dihinggapi inflasi, tidak seperti Malaysia dan Thailand. Bank Indonesia menyebut core inflation Indonesia dalam kisaran 7 sampai 8 persen setahun. Inflasi inti adalah inflasi yang “selalu ada”, seolah-olah berakar. Ini disebabkan oleh kebiasaan kebijakan moneter dan/atau kebijakan fiskal yang kurang ketat, juga oleh karena sikap atau antisipasi publik yang di Indonesia terlalu biasa hidup dalam inflasi. Orang awam sering lebih suka menyimpan barang ketimbang uang. Di atas inflasi inti ini ada pengaruh inflasi “satu kali” (once over) yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM. Mengapa inflasi once over tinggi (sekali), mengapa ini tidak hanya dalam kisaran 3-5%, lebih sulit untuk diterangkan. Salah suatu keterangan adalah karena kenaikan harga BBM juga sangat tinggi, rata-rata 125% , yang menimbulkan kejutan. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh M. Sadli
|
|
Rabu, 09 November 2005 |
(Business News, Senin, 7 November 2005)
Beberapa hari sebelum Lebaran maka Biro Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi untuk bulan Oktober mencapai 8,7%. Ini tinggi sekali dan belum pernah terjadi. Inflasi bulanan yang tertinggi terjadi di bulan Januari 2002, yakni 1,99%. Secara normal angka inflasi bulanan adalah kurang dari satu persen, bahkan sekitar setengah persen. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh M. Sadli
|
|
Rabu, 09 November 2005 |
|
(Business Indonesia, Senin, tanggal 31 Oktober 2005)
Minggu yang lalu ada perbedaan dalam wacana mengenai kebijakan fiskal yang cukup menarik. Fihak pemerintah, khususnya Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan, menyatakan bahwa mereka ingin mengadakan stimulus fiskal yang sedikit lebih besar untuk tahun anggaran 2006. Defisit APBN mereka suka tetapkan pada tingkat 1,1% dari PDB. Sementara PDB ditetapkan Rp 3040,77. Di lain fihak, sentimen di DPR lebih konservatip dan tidak ingin (terlalu) melebihi kesepakatan yang semula yang mematok defisit APBN 2006 pada tingkat 0,6% dari PDB. Akhirnya, dikabarkan, dicapai kompromis pada tingkat 0,7% dari PDB (Rp 22.43 trilyun). Maka sebelumnya ada perbedaan wacana antara pemerintah dan DPR yang menyangkut jumlah lebih dari Rp 10 trilyun. Yang menjadi masalah adalah semangat siapa yang paling “baik”, yakni semangat pemerintah yang mau memberikan stimulus ekonomi yang lebih besar, atau sikap DPR yang lebih berhati-hati (prudent)? Akhirnya, ini merupakan pilihan yang subyektip, dan kami lebih condong membenarkan DPR. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
Ditulis oleh M. Sadli
|
|
Senin, 24 Oktober 2005 |
(Business News, Senin, 24 Oktober 2005)
Akhir minggu yang lalu, terutama pada tanggal 20 Oktober, surat-surat kabar sibuk menilai kinerja pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang telah berjalan tepat satu tahun. Pada umumnya nada liputan dan survey sangat kritis. Tidak ada yang mengancungkan jempolnya. Tetapi, nada yang tidak positip ini kiranya banyak terpengaruhi oleh tindakan terakhir pemerintah, menaikkan harga-harga BBM lebih dari 100%. Masyarakat, termasuk para pakar, pengamat dan wartawan sangat “kaget”. |
|
Baca selengkapnya...
|
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya > Akhir >>
|
| Hasil 19 - 27 dari 130 |