|
YANG PENTING ADALAH MASALAH EKONOMI |
|
|
|
|
Ditulis oleh Sadli
|
|
Senin, 14 Juni 2004 |
Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS) telah mengadakan jajak pendapat, mencatat pilihan 5000 responden dari 17 propinsi (24 kota dan 19 kabupaten) dan yang dilakukan tanggal 21 Mei sampai 1 Juni 2004. Mula-mula ditanyakan masalah apa yang menjadi perhatian atau kepentingan para responden. Dari sekian banyak persoalan yang dicatat maka yang mencuat adalah masalah ekonomi, yakni mahalnya kebutuhan pokok dan pengangguran serta kemiskinan. Persoalan yang serba politik seperti konflik daerah, terorisme, anti-diskriminasi, dan yang serba sosial (akibat banjir dan kerusakan lingkungan) kalah tinggi urgensinya. Disadari juga bahwa pencapaian sasaran ekonomi demikian memerlukan keadaan yang aman dan stabil serta kepimpinan yang kuat. Oleh karena itu pasangan tokoh militer dan sipil lebih populer daripada yang lain-lain.
Hasil jajak pendapat ini menghasilkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla yang paling populer, meraih 46,64% dari suara responden. Pada peringkat kedua adalah pasangan Amien-Siswono (19,70%), nomor tiga adalah Megawati-Hasyim (13,78%), keempat Wiranto-Solah (10,56%) dan terakhir Hamzah-Agum (6,98%), sedangkan yang tidak menjawab adalah 6,98%.
Jajak pendapat atau polling yang dilakukan sebelum acaranya terjadi tidak bisa dipercayai terlalu banyak. Dengan berjalannya waktu sikap serta pilihan orang juga bisa berubah. Biaya polling menjadi pembatasan. Sengaja atau tak sengaja komposisi respondennya bisa mengandung bias. Dari komposisi para responden polling SSS ini tampak bias ke arah responden di kota (24) dan kabupaten (19), bukan desa. Dalam hal pendidikan juga ada bias karena yang berpendidikan sekolah dasar hanya 8,66% sedangkan jumlah yang terbesar adalah yang berpendidikan SMU (45,84%). Yang berpendidikan perguruan tinggi (29,64%) juga lebih besar daripada yang dari SMP (15,86%).
Dari latar belakang profesinya maka yang terbanyak adalah dari Swasta, Pelajar/Mahasiswa, Wiraswasta dan Ibu Rumah Tangga (total 72%), sedang (misalnya) Buruh/Petani/Nelayan hanya 9,76%.
Walaupun hasil polling tidak bisa dipercayai seratus persen namun orang kepingin tahu sedini mungkin siapa akan terpilih menjadi presiden RI. Sebagai bahan perbandingan, yang mengadakan polling ini bukan satu organisasi saja, tetapi empat. Dua dibiayai oleh Amerika (IFES dan satu lagi), satu dibiayai oleh Jepang-JAICA (LSI). SSS membiayainya sendiri, sehingga “anggarannya agak kurang”. Di bulan April ada empat perbandingan, akan tetapi itu mungkin sudah tidak tepat lagi. Akan tetapi yang menonjol adalah, pasangan SBY-Kalla secara konsisten ada di atas, dan popularitas Megawati tampak mundur. Ranking Wiranto-Solah masih bisa berubah bulan Juni ini, karena Wiranto-Solah punya “mesin politik” yang paling besar. Dengan mendekatnya saat pemilihan maka jumlah suara yang masih mengambang (belum bisa memastikan pilihannya) berkurang. Pada polling SSS akhir bulan Mei ini maka angka ini sudah di bawah 10%.
Pada umumnya dibayangkan bahwa yang menentukan siapa yang akhirnya memang adalah “mesin politik” di satu fihak atau “popularitas” di lain fihak. Sayangnya tidak ada indikasi yang serba obyektip faktor mana yang akan lebih menentukan. Maka “teori” yang aman adalah “kedua-duanya akan berpengaruh”, akan tetapi pernyataan demikian sama dengan tautology.
Kalau mesin politik yang lebih penting mengapa score SBY jauh lebih tinggi daripada Wiranto? Kemungkinan penjelasan: mesin politik untuk Golkar dan PKB tidak bisa jalan sesuai dengan pentunjuk dari atas karena warga dan pendukung terbelah. Maka penulis editorial ini lebih cenderung memberatkan faktor popularitas. Popularitas SBY lebih tinggi daripada Wiranto karena Wiranto punya “beban sejarah” yang berat. SBY juga sangat populer di kalangan kota (sopir taksi, ibu rumah tangga, swasta, dsb-nya) dan di luar Jawa/Bali. Suara di lingkungan pedesaan memang besar sekali, dan cenderung ke mana tidak bisa diramal karena di Jawa suara dari pesantren (NU) dan dari pendukung Golkar tidak solid.
Maka, kalau semua indikasi dari polling ini bisa dipakai sebagai dasar prediksi maka yang akan menjadi pemenang di ronde pertama adalah SBY-JK dan Amien-Siswono. Yang merupakan unsur surprise adalah faktor Amien karena sebelumnya scorenya rendah sekali. Kiranya, peringkat Amien dan Mega masih bisa berubah mendekati 5 Juli. Mega masih bisa mengungguli Amien, akan tetapi sampai hari ini citra Mega belum tampak bisa terangkat. Amien Rais juga sangat lincah dalam penampilannya karena tidak punya beban. Beban Mega jauh lebih berat. Ia harus berhati-hati menjanjikan sorga. Amien tidak. Maka kita tunggu saja hasil polling IFES. |