Rabu, 22 Oktober 2014
Artikel Terkini
Artikel Populer
MENYIKAPI ARTI INFLASI PDF Cetak
Penilaian pengunjung: / 66
JelekBagus sekali 
Ditulis oleh M. Sadli   
Jumat, 11 November 2005
(Business News, Senin, 14 November 2005)

Tingkat inflasi untuk bulan Oktober 2005 yang sangat tinggi itu (8,75%) masih membuat prihatin banyak kalangan.  Karena ada yang disebut core inflation, atau inflasi inti, oleh Bank Indonesia yang besarnya sekitar 7-8% setahun maka kedua pengaruh inflasi ini secara agregatip menimbulkan inflasi lebih dari 15% setahun.  Maka arti inflasi harus disikapi.

Arti atau definisi umum dari inflasi adalah gejala kenaikan harga secara umum (artinya semua harga terpengaruhi) oleh karena “terlalu banyak uang mengejar jumlah barang yang jumlahnya tidak bertambah”.  Inflasi dalam artian ini adalah gejala effective demand  yang terlalu besar, entah oleh karena akibat kebijakan fiskal (anggaran belanja pemerintah) atau oleh kebijakan moneter dari bank sentral.  Misalnya, dalam masa pertama RI inflasinya tinggi sekali oleh karena kebijakan fiskal terlalu “gampangan” (loose).  Artinya, kalau pemerintah memerlukan uang maka ditempuh jalan yang mudah, yakni cetak saja uang baru.  Usaha untuk mengumpulkan pajak baru merupakan usaha serius di zaman yang mutakhir. Pada tahap berikutnya maka dalil untuk “mencetak saja uang kalau diperlukan pemerintah” dikoreksi.  Pembiayaan defisit anggaran belanja pemerintah diusahakan dengan cara yang tidak langsung menuju ke pencetakan uang baru.  Maka pada tahap itu menarik pinjaman luar negeri menjadi jalan keluar yang sering ditempuh oleh pemerintah.  Ini sesuai dengan prinsip umum pembiayaan defisit anggaran belanja pemerintah yang non-inflator, yakni berhutang saja dari luar dan dalam negeri, atau/dan menjual asset negara.  Menjual asset negara untuk menutup defisit juga merupakan upaya yang lebih mutakhir, yakni dengan menjual BUMN, entah sebagian sahamnya atau secara keseluruhan (privatisasi).

Mula-mula, misalnya di zaman Suharto, pemerintah lebih berusaha menarik pinjaman dari sumber-sumber resmi (negara atau lembaga internasional seperti Bank Dunia dan IMF) karena syarat-syaratnya lebih lunak, artinya tingkat bunganya konsesional dan waktu pembayaran kembali berjangka panjang.  Sekarang pemerintah sesekali juga turun ke pasar uang internasional dan berusaha menjual obligasi dolar.  Tetapi, diusahakan agar tidak terlalu banyak karena syarat-syaratnya lebih berat daripada pinjaman dari sumber-sumber resmi.  Belakangan ini pemerintah juga turun ke pasar uang dalam negeri dan menjual obligasi rupiah.  Tingkat bunganya tinggi akan tetapi tidak membebani neraca pembayaran.  Kalau pemerintah mengeluarkan uang untuk membayar kembali obligasi dalam negeri maka uangnya (sebagian besar) tetap berputar di dalam negeri dan bisa membantu perekonomian.

Bank Indonesia sebagai bank sentral sekarang mempunyai misi tunggal, yakni menjaga nilai rupiah, artinya sekuat tenaga berusaha mengekang inflasi.  Kalau ada tekanan inflasi yang meninggi maka BI menaikkan suku bunganya (BI rate atau SBI) sehingga mengerem pengeluaran kredit baru oleh sistim perbankan.  Akan tetapi kalau inflasi tetap memuncak maka BI menghadapi dilema, seperti sekarang ini juga.

BI ratenya sudah dinaikkan sampai 12,25% setahun, tetapi kalau tingkat inflasi yang diperkirakan menuju ke tingkat 15-17% setahun, apakah BI masih harus menaikkan BI ratenya?  Resikonya adalah bisa “mencekik ekonomi” dengan laju pertumbuhan ekonomi menjadi korban.  Dalam hal ini, menjadi pertanyaan, yang disebut “inflasi” itu yang mana, (hanya) core inflation, atau inflasi inti ini plus dampak kenaikan harga BBM yang pada dirinya di bulan Oktober sempat menaikkan indeks inflasi 8,75%. 

Ada pakar (antara lain Cyrillus Harinowo, di karangannya di s.k. Kompas “Menimbang Arah Suku Bunga”, 10 Nov.2005) yang mewanti-wanti Bank Indonesia jangan gegabah menaikkan suku bunganya lagi karena “kenaikan suku bunga yang terlalu tinggi tidak akan memecahkan masalah (karena sebagian masalahnya sudah lewat), justru akan menimbulkan masalah baru”.  Baginya, angka kenaikan harga 8,75% di bulan Oktober bukan inflasi dalam artian yang konvensional, namun dampak sesaat (one shot) yang “cost push”, bukan “demand pull” tanda inflasi biasa.  “Memerangi inflasi dengan menaikkan suku bunga setinggi-tingginya bukan tidak mungkin justru akan menjadi kontraproduktip”.

Kiranya nasehat Cyrillus Harinowo ini harus diperhatikan.  Ia sendiri juga berpengalaman di Bank Indonesia.  Tetapi, juga ada “dalil” bahwa tingkat suku bunga bank sentral harus di atas tingkat inflasi, karena tingkat bunga dalam negeri harus bisa membuka peluang bagi pemilik modal (rupiah) untuk mengamankan asetnya.  Dalam rangka ini, apa yang harus menjadi ukuran untuk “inflasi”, inflasi yang sudah lalu (past inflation) atau inflasi yang diperkirakan di perioda yang menyusul (expected inflation from now on)?  Past inflation, y-o-y Oktober 2004-Oktober 2005 lebih dari 15%, akan tetapi untuk y-o-y Nov.2005-November 2006 akan di bawah 10%.

< Sebelumnya   Selanjutnya >
Menu Utama
Home
Adi Harsono
Ali Khomsan
Eddy Satriya
Hadi Soesastro
J Soedradjad D.
Jack M. Niles
Mari Pangestu
Mohammad Sadli
Myra Sidharta
Saparinah Sadli
Setyanto P. Santosa
Shanti L.P.
Tanri Abeng
Lain-lain
Katalog
Artikel
Biografi
Arsip Lama
CPF Luhulima
Desi Anwar
Hadi Soesastro
Iwan Jaya Azis
Jafar Basri
M. Sadli
Mira Sidharta
Sri Mulyani Indrawati
- - - - - - -
Bulletin Kadin
Yay. Padi & Kapas
Artikel/Info Terkait
© Copyright 2005, Pacific Link

Go to the www.pacfiic.net.id Kumpulan Artikel BIOGRAFI