Jumat, 03 September 2010
Artikel Terkini
Artikel Populer
MEMBERI ANGKA UNTUK KINERJA PEMERINTAH PDF Cetak
Penilaian pengunjung: / 13
JelekBagus sekali 
Ditulis oleh M. Sadli   
Senin, 24 Oktober 2005
(Business News, Senin, 24 Oktober 2005)

Akhir minggu yang lalu, terutama pada tanggal 20 Oktober, surat-surat kabar sibuk menilai kinerja pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang telah berjalan tepat satu tahun.  Pada umumnya nada liputan dan survey sangat kritis. Tidak ada yang mengancungkan jempolnya.  Tetapi, nada yang tidak positip ini kiranya banyak terpengaruhi oleh tindakan terakhir pemerintah, menaikkan harga-harga BBM lebih dari 100%.  Masyarakat, termasuk para pakar, pengamat dan wartawan sangat “kaget”.

Tetapi, akhirnya, banyak kupasan dan editorial akhirnya menyatakan masih ada kepercayaan terhadap pasangan SBY-JK.  Koran Tempo, misalnya, dalam editorialnya hari Kamis yang lalu itu, mengingatkan “tanpa bermaksud memberikan permakluman, pemerintah SBY tahun pertama ini bekerja dalam kondisi lumayan berat. Koran ini melihat ada usaha pemerintah untuk keluar dari kesulitan.  Hanya sosialisasi kurang berhasil, juga kinerja team ekonomi. Hanya dengan perbaikan itu pemerintah ini bisa mencetak angka rapor lebih baik pada tahun kedua”.

Surat kabar The Jakarta Post (bahasa Inggris) berpendapat yang sama pada editorialnya yang diberi judul “A better second year”.  Disimpulkannya bahwa “we are of the opinion that President Susilo receives a passing grade during his freshman year, albeit with some degree of reservation”.

Surat kabar Kompas menurunkan kupasan beberapa halaman penuh.  Tetapi, tajuk rencananya kurang apresiatip.  “Kita cenderung berpendapat, kebijakan yang komprehensip belum tampak jelas dan nyata, demikian pula interaksi, koordinasi dan implementasi di lapangan”.  Tetapi juga diakui, “Namanya penilaian, jelas ada faktor subyektif. Namanya menilai kinerja pemerintahan, tidaklah mungkin berdimensi hitam-putih”. Akhirnya, “demi keberhasilan bagi perbaikan hidup warga, bangsa dan negara, perbaikan perlu diadakan”.

Demikianlah beberapa kutipan ikhtiar untuk memberi angka rapor.  Pada umumnya, kita kurang bersedia menghukum pemerintah ini dengan memberikan angka merah, failing grade, atau angka 4 atau huruf D atau F.  Karena masih ada harapan terhadap pasangan pimpinan nasional untuk memperbaiki kinerjanya pada tahun kedua dan seterusnya.  Di lain fihak, untuk memberi angka bagus, yakni angka 8 atau huruf A, juga masih kurang berkenan.  Maka batasan yang bisa dipertimbangkan adalah angka antara 5 dan 7, atau antara huruf C dan B.  Mungkin angka “kompromis” adalah 6 atau C-plus.  Ini mengandung makna bahwa “hasil tahun pertama tidak terlalu gemilang, akan tetapi masih ada harapan untuk perbaikan”.  Penilaian demikian adalah secara umum, artinya, bukan hasil di bidang ekonomi saja. Hasil di bidang politik-keamanan, yakni tercapainya perdamaian di Aceh, pada umumnya mendapat acungan jempol.

Tetapi, bagaimana di bidang ekonomi?  Karena keputusan untuk menaikkan harga-harga BBM yang tinggi sekali telah menuai amarah masyarakat maka reaksi pertama berbentuk menolak pemberian predikat lulus. Di lain fihak, keberanian pemerintah untuk menghalau kebangrutan anggaran belanja (bisa jebol oleh subsidi BBM yang lebih besar daripada Rp 100 trilyun) patut dipuji.  Ini juga dihargai oleh surat kabar seperti Koran Tempo dan The Jakarta Post. Sayang tidak diikuti oleh tajuk rencana s.k. Kompas.  Akan tetapi, salah suatu kupasan di harian ini oleh seorang staf redaksi (Suryopratomo) dalam kupasannya “Arti Satu Tahun bagi Pasangan SBY-JK”, mengakhiri dengan harapan “Meski kepuasan masyarakat menurun, satu yang pantas membuat kita optimis, yaitu kepercayaan terhadap pasangan Yudhoyono-Kalla masih tinggi.  Artinya, masih ada keinginan masyarakat agar kedua pemimpin itu memenuhi apa yang sama-sama kita inginkan, meraih Indonesia Baru yang lebih adil, demokratis, dan sejahtera”.

Yang menarik perhatian adalah suatu kupasan dari “Team Tempo” di s.k. Koran Tempo, yang diberi judul “Rapor tanpa Angka Delapan”.  Sidang redaksi Tempo menilai rapor para menteri ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu  tak terlalu mencorong, bahkan cenderung kusam.  Ke-14 menteri ekonomi itu dimasukkan empat kategori, yakni baik, cukup, kurang, dan tanpa penilaian.  Ternyata, cuma dua menteri yang mendapat nilai baik, lima orang memperoleh nilai cukup, empat lagi bernilai kurang, dan tiga menteri tidak mendapat penilaian.  Dua yang terbaik adalah Menteri kehutanan M.S. Kaban dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

M. S. Kaban mendapat angka 7,8, Djoko Kirmanto juga 7,8.  Di lain fihak, Aburizal Bakrie mendapat angka 6,8, Purnomo Yusgiantoro 6,7, Jusuf Anwar 6,3, Andung Nitimiharja 6,2 (yang paling rendah), Sugiarto 7,5, Sri Mulyani Indrawati 7,3, M Hatta Rajasa 7,3, Anton Apriyantono 7,3, Mari Elka Pangstu 7,0, Freddy Numberi tidak diberi angka, Suryadharma Ali tanpa angka, dan Muhammad Yusuf Asy’ari juga tanpa angka,  Baik adalah di atas 7,5, Cukup adalah antara 7 dan 7,5, dan Kurang adalah kurang dari 7.

< Sebelumnya   Selanjutnya >
Menu Utama
Home
Adi Harsono
Ali Khomsan
Eddy Satriya
Hadi Soesastro
J Soedradjad D.
Jack M. Niles
Mari Pangestu
Mohammad Sadli
Myra Sidharta
Saparinah Sadli
Setyanto P. Santosa
Shanti L.P.
Tanri Abeng
Lain-lain
Katalog
Artikel
Biografi
Arsip Lama
CPF Luhulima
Desi Anwar
Hadi Soesastro
Iwan Jaya Azis
Jafar Basri
M. Sadli
Mira Sidharta
Sri Mulyani Indrawati
- - - - - - -
Bulletin Kadin
Yay. Padi & Kapas
Artikel/Info Terkait
© Copyright 2005, Pacific Link

Go to the www.pacfiic.net.id Kumpulan Artikel BIOGRAFI