|
INVESTOR DAN PEBISNIS MASIH WAIT-AND-SEE |
|
|
|
|
Ditulis oleh Sadli
|
|
Senin, 10 Mei 2004 |
Pemilihan umum untuk DPR sudah lalu dengan aman dan tertib, dan ranking partai politik di DPR juga sudah diketahui. Banyak aspek yang sama, artinya kontinuitas cukup terjamin. Di lain fihak juga ada beberapa perubahan yang penting. Perubahan yang tidak akan mendukung tumbuhnya pemerintah yang kuat adalah proliferasi partai-partai politik. Partai terbesar, Golkar, hanya mampu meraih kurang dari seperempat jumlah kursi DPR. Kemungkinan timbulnya kabinet pelangi muncul lagi, yang kelemahan strukturalnya hanya bisa dikompensasi oleh pribadi kepimpinan presiden yang kuat. Ketidakpastian ini akan mengganggu ekonomi.
Pilihan antara capres juga tidak memberi harapan banyak. Kalau Megawati menjadi presiden lagi maka gaya kepimpinannya tidak bisa berubah secara drastik. Ia tetap tidak bisa menjanjikan kepimpinan yang kuat. Yang punya citra paling kuat adalah Wiranto, akan tetapi cacat politiknya juga paling besar. Kompromis yang paling baik adalah SBY, tetapi iapun belum teruji.
Untuk meramal siapa yang akan menang pada waktu ini masih susah sekali. Oleh karena itu bisnis dan investor tetap akan menunggu. Seorang pejabat kementerian ekonomi dari Jepang berkesan serupa. Yang paling penting bagi Jepang adalah perbaikan iklim investasi, yang tak kunjung datang. Investor Jepang dan dari Barat mempunyai dua keluhan yang utama, pertama, mereka merasa “gangguan dari pajak” (jawatan pajak selalu bisa memaksa perusahaan bayar dulu taksiran inspektur pajak dan kalau perusahaan menang di peradilan pajak maka pengembalian uangnya masih bisa lama sekali tanpa pemerintah membayar kerugian bunga), kedua, situasi perburuhan yang sangat tidak pasti dibandingkan Cina dan Vietnam, destinasi alternatip bagi PMA itu.
Belakangan ini kurs rupiah dan indeks kurs saham di bursa melemah dan inflasi memanas sedikit. Salah suatu sebab adalah berita mengenai ledakan bom di Pakanbaru. Ada desas desus bahwa kejadian demikian juga ada hubungannya dengan kontes kepresidenan. Dengan adanya jendral yang ikut kontes dan yang tampak punya popularitas sebagai unsur yang “lebih bisa menjamin ketenteraman dan keamanan” maka insiden-insiden yang menambah citra Indonesia menjadi kurang aman menjadi isu pemilihan presiden. Kalau kecurigaan demikian ada benarnya maka bisa diharapkan masa sampai September 20 tidak akan terlalu bebas dari gangguan keamanan.
Di lain fihak, ada beberapa indikator yang mengesankan ekonomi masih berjalan di atas rel yang mantap. Kalangan pemerintah tetap percaya sasaran-sasaran ekonomi makro untuk tahun 2004 masih bisa diraih, yakni laju pertumbuhan PDB mendekati 5% dan laju inflasi 5% setahun.
Pembangunan sektor infrastruktur yang mendukung consumption boom masih marak. Antara lain, konstruksi ruko dan pusat-pusat pembelanjaan masih kuat. Ada permulaan boom real estate.
Sayang kinerja ekspor masih stagnan. Ekspor bulanan memang mencapai sekitar US$ 5 milyar sebulan, atau ekuivalen dengan US$ 60 milyar setahun, akan tetapi kinerja demikian sudah dicapai di tahun 2000. Di lain fihak ada tanda-tanda impor bulanan naik, walaupun belum disebabkan oleh impor barang modal untuk investasi. Maka surplus pada neraca perdagangan (ekspor minus impor) cenderung mengecil. Kalau ini terjadi terus maka kurs rupiah bisa melemah, kecuali kalau dikompensasi oleh capital inflow. Kurs melemah pada dirinya baik kalau bisa merangsang ekspor non-migas. Akan tetapi justru inilah yang sampai sekarang kurang tampak.
Pejabat pemerintah Jepang yang mengesankan sikap wait-and-see itu mengacu kepada perbaikan iklim investasi. Ia belum melihat tekad yang efektip di sektor ini, dan dari ketiga calon presiden yang paling kuat (Megawati, SBY dan Wiranto) juga tidak tampak rencana yang konkrit bagaimana memperbaikinya. Kalau dikejar-kejar ditanya maka dari ketiga kubu calon presiden yang kuat hanya terdengar bahwa yang satu akan melanjutkan kebijaksanaan makro-ekonomi, sedangkan kubu lain mengisyaratkan mereka tidak akan menempatkan ekonom-ekonom yang “pro-IMF” di dalam kabinetnya. Itu hanya menyangkut wacana ekonomi makro. Sedangkan untuk memperbaiki iklim investasi yang sangat diperlukan adalah approach mikro, sektoral atau intersektoral, dan para menteri harus mampu bertindak sebagai suatu team yang efektip bisa digerakkan oleh suatu visi dan komando. Ini lebih banyak soal management dan koordinasi, bukan soal policy ekonomi. Berita terakhir bahwa perusahaan asuransi internasional yang sangat besar dan sehat (Prudential) bisa dinyatakan pailit oleh putusan hakim pengadilan niaga di Jakarta Pusat hanya menambah citra buruk penegakan hukum. Memperkuat sikap wait-and-see lagi dari para investor asing. |