Rabu, 20 Agustus 2008
Artikel Terkini
Artikel Populer
INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT PDF Cetak
Penilaian pengunjung: / 27
JelekBagus sekali 
Ditulis oleh M. Sadli   
Jumat, 17 Maret 2006
(Business News, Senin 20 Maret 2006)

Kunjungan menteri luar negeri Amerika Serikat, Condoleezza Rice, telah menarik banyak perhatian.  Hanya mampir dua hari di Jakarta ia sempat berpidato untuk sekitar lima ratus undangan.  Miss Rice berusaha untuk menampilkan wajah Amerika yang lunak, walaupun terutama dari kalangan Islam politik Amerika Serikat tidak punya sikap yang selalu ramah. Pada umumnya, kawasan Asia Tenggara tidak menjadi sasaran utama kebijakan AS karena tidak dipandang kawasan yang rawan.  Maka apakah kunjungan Miss Rice ini menjadi sinyal ada perubahan persepsi di Washington DC?  Miss Rice banyak memuji Indonesia dalam pidatonya dan ?menawarkan? kerjasama yang lebih erat, tidak hanya di bidang anti-terorisme, tetapi yang ditawarkan adalah kerjasama menyeluruh, termasuk bidang ekonomi, politik dan sosial (pendidikan).

Reaksi yang bisa terbaca di surat-surat kabar masih mengandung keraguan (reserve). Di lain fihak, ada surat kabar penting (Koran Tempo) yang dalam editorialnya membandingkan sikap Pakistan yang tidak ragu-ragu menampik tawaran Amerika Serikat dan menyatakan diri menjadi sekutu. Sebaliknya, Indonesia menganggap dirinya lebih banyak teman AS ketimbang sekutu.  Indonesia memang selalu lebih suka independen.

Dulu, ketika dunia masih terbagi atas dua kubu, Barat dan Timur, yang bertentangan, maka sikap tak-mau-memihak ini sangat masuk akal dan sejumlah negara berkembang juga menganutnya.  Sekarang kita hidup di dunia yang hanya ada satu superpower, Amerika Serikat.  Apa keuntungan sikap independen?  Condoleezza Rice sekarang menawarkan kepada Indonesia kerjasama yang lebih erat dengan iming-iming mendapat bantuan yang jauh lebih besar.

Mungkin akhirnya sikap Indonesia akan bermuka dua: di satu fihak tetap menyatakan ketidakfihakan, di lain fihak menerima tawaran bantuan AS yang lebih besar.  Pakistan memang lebih mudah menyatakan diri sekutu AS dalam perangnya melawan terorisme yang sebetulnya merupakan bagian ekstrim dari gerakan Islam.  Indonesia belum merasa dirinya terlalu terancam sehingga lebih suka bersikap independen.  Sangat mungkin Pemerintah RI juga menaksir bahwa perasaan mayoritas Islam di Indonesia sangat sensitip terhadap isu persekutuan internasional ini.

Tetapi, ?tawaran? Amerika Serikat untuk bersekutu dengannya untuk bersama-sama menghadapi beberapa persoalan dunia patut tidak ditolak begitu saja.  Di medan internasional Indonesia merupakan kekuatan menengah (middle power) dan dipandang pemimpin alamiah dari ASEAN.  Di Asia ada tiga kekuatan lain yang besar, yakni Cina, Jepang dan Amerika Serikat.  Jepang secara nyata sadar bahwa kehadiran serta kekuatan AS membantu menjaga keseimbangan (dan perdamaian)  antara ketiga kekuatan ini.  AS rupanya mengharapkan Indonesia dan ASEAN untuk menjadi counter weight untuk Cina.  Mengapa Cina harus diwaspadai?  Tidak ada alasan yang mendesak karena Cina selama ini lebih ingin berdagang daripada memperluas pengaruh politik.  Akan tetapi, Cina merupakan negara raksasa, lagipula sistim pemerintahannya bukan demokrasi politik.  Maka kewaspadaan itu kiranya masuk akal.  Tetapi, pengaruh Indonesia secara sendirian tidak akan sebesar daripada merupakan bagian persekutuan. 

Indonesia bisa bekerjasama dengan AS lewat ASEAN, APEC dan ARF (Asian Regional Forum).  AS punya kecenderungan untuk lebih mementingkan kawasan Asia Utara-Timur, dan ini masuk akal karena masalah keamanannya lebih mendesak.  AS harus ditarik juga untuk ikut aktip membangun kawasan Asia Tenggara.

Bantuan ekonomi langsung dari AS untuk Indonesia sebetulnya tidak besar, hanya di atas seratus juta dolar setahun.  Bantuan bilateral yang jauh lebih besar datang dari Jepang, dan bantuan multilateral yang di atas satu milyar dolar setahun datang dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia.  Akan tetapi, pengaruh Amerika Serikat terhadap Jepang dan terhadap Bank Dunia besar sekali. Ini harus diperhitungkan.

Sebagai sumber inspirasi pembangunan demokrasi politik maka AS juga sangat pentingnya.  Eropa mungkin tidak kalah pentingnya, akan tetapi selama ini jauh lebih banyak orang Indonesia berkunjung dan dididik di AS daripada di Eropa.  Eropa sedang mengalami transformasi, di mana negara-negara individual, seperti Negeri Belanda atau Jerman, berangsur-angsur akan dikendalikan oleh ibu kota Eropa (Brussel).  AS dan Eropa bagi kita adalah ?blok Barat? yang kadang-kadang kita curigai.  Akan tetapi sebagai lambang demokrasi politik maka ?Barat? masih superior.
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Menu Utama
Home
Adi Harsono
Ali Khomsan
Eddy Satriya
Hadi Soesastro
J Soedradjad D.
Jack M. Niles
Mari Pangestu
Mohammad Sadli
Myra Sidharta
Saparinah Sadli
Setyanto P. Santosa
Shanti L.P.
Tanri Abeng
Lain-lain
Katalog
Artikel
Biografi
Arsip Lama
CPF Luhulima
Desi Anwar
Hadi Soesastro
Iwan Jaya Azis
Jafar Basri
M. Sadli
Mira Sidharta
Sri Mulyani Indrawati
- - - - - - -
Bulletin Kadin
Yay. Padi & Kapas
Artikel/Info Terkait
© Copyright 2005, Pacific Link

Go to the www.pacfiic.net.id Kumpulan Artikel BIOGRAFI