Rabu, 07 Januari 2009
Artikel Terkini
Artikel Populer
AMBIVALENSI TERHADAP BANK ASING? PDF Cetak
Penilaian pengunjung: / 2
JelekBagus sekali 
Ditulis oleh M. Sadli   
Jumat, 12 Agustus 2005
(Business News, Senin, 15 Agustus 2005)

Karena tabungan dan modal dalam negeri dipandang sangat kurangnya maka sejak permulaan pemerintah Suharto di tahun 1966 maka Indonesia berusaha menarik penanaman modal asing. Sebetulnya, yang pada waktu itu lebih mendesak adalah bantuan luar negeri (foreign aid) kepada pemerintah untuk membiayai defisit anggaran belanja pemerintah.  Penarikan modal (swasta) asing dipandang sebagai pelengkap yang perlu (sweetener) agar pemerintah negara bersahabat lebih suka memberi bantuan.  Akan tetapi, peran modal asing juga dikaitkan dengan promosi ekspor non-migas.  PMA diharapkan juga ikut mengekspor barangnya dan bank asing bisa melicinkan proses ini.

Mula-mula diizinkan sepuluh bank asing besar untuk menempatkan cabangnya di Indonesia.  Maka sejak zaman itu kita kenal cabang Citibank, Bank of Tokyo, Deutsche Bank, ABN (Belanda), dan sebagainya.  Sebetulnya, bank-bank itu bukan PMA melainkan hanya berupa bank cabang.  Jumlah cabang akhirnya juga tidak terlalu banyak, walaupun perputaran uang cukup besar.   

Di dasawarsa delapanpuluhan sektor perbankan dalam negeri dideregulasi dan beratus-ratus bank swasta dalam negeri muncul.  Semua perusahaan besar domestik (konglomerat) mendirikan banknya.  Bank-bank itu ramai sekali mengumpulkan deposito dari nasabah besar dan kecil, dan bank milik konglomerat itu lalu menyalurkannya ke investasi perusahaan sekelompoknya.  Bank-bank pemerintah juga menjadi besar dan banyak membiayai ekspansi sektor swasta, termasuk perusahaan dari konglomerat ini.  Setelah terimbas krisis keuangan 1998 maka banyak dari bank swasta yang besar ini jatuh ke tangan asing.  Maka sekarang kelompok bank asing tidak hanya terdiri dari sepuluh bank cabang yang pertama, yang disusul oleh sejumlah bank patungan swasta asing dan dalam negeri, dan sekarang bank-bank besar yang (sebagian) jatuh ke tangan asing, seperti Bank BCA, Bank Danamon, Bank Niaga, Bank Lippo, Bank BII.  Maka cepat atau lambat timbul perasaan nasionalisme yang meresahkan membesarnya pengaruh bank-bank asing ini, seperti bisa terbaca di editorial surat kabar Investor Daily, 10 Agustus 2005 (?Perbankan Nasional Sulit Jadi Tuan di Negeri sendiri?).  Editorial ini tidak anti-bank asing, akan tetapi terasa perasaan yang ambivalen (ambivalensi adalah perasaan campuran antara suka dan tidak suka).
 
Di satu fihak diakui bahwa bank asing membawa tehnologi baru, kualitas pelayanan publik yang lebih baik, punya network luas di luar negeri sehingga bisa membantu impor-ekspor Indonesia, dan last but not least, menyediakan banyak modal baru bagi dunia perusahaan di Indonesia. 

Akan tetapi, dipertanyakan, apakah bank asing peduli dengan stabilitas moneter dan ekspansi kredit bagi usaha kecil dan menengah?  Bersediakah bank asing  mengikuti imbauan bank sentral untuk ikut menjaga nilai rupiah dan komit menegakkan sektor riil?  Ada juga kecenderungan bank asing lebih dipercayai masyarakat sehingga dana yang dipercayakan kepada bank-bank asing ini lebih besar.  Masyarakat juga mengamati bahwa bank-bank yang hampir ambruk karena terimbas krisis moneter 1998 adalah bank-bank swasta nasional, sedangkan bank asing di Indonesia tetap sehat. Apakah semuanya itu betul mengkhewatirkan?  Apakah bank-bank asing akan mematikan atau mengerdilkan bank-bank nasional?

Dalam keadaan normal tidak akan terjadi.  Di Singapura, Malaysia, Thailand, Hongkong dan Cina itu tidak terjadi.  Bahkan bank-bank dalam negeri di negeri-negeri itu tambah kuat.  Yang belakangan ?menyerbu? Indonesia dan membeli bank-bank nasional adalah modal dan bank dari Singapura dan Malaysia, bukan dari Amerika atau Eropa. Orang juga bisa berspekulasi bahwa bank-bank asing lebih patuh kepada otoritas moneter karena setiap waktu bisa ditegor.  Bank (swasta) dalam negeri lebih bandel.

Perbankan nasional secara normal akan lebih kuat kalau ada persaingan dari bank-bank (asing) yang lebih modern.  Ini terjadi di Singapura dan Malaysia, sehingga mengapa tidak akan terjadi di Indonesia?  Memang, bank-bank dalam negeri di Indonesia menikmati proteksi lebih besar dari pemerintah, dan proteksi inilah yang di satu fihak bisa membesarkan akan tetapi bisa juga melemahkan pertumbuhan.  Sebetulnya, sudah waktunya pemerintah menghapuskan blanket guarantee kepada semua bank swasta dalam negeri untuk melindungi para pemegang deposito.

Jumlah bank di Indonesia yang lebih dari seratus (dulu lebih dari dua ratus) memang terlalu besar.  Bank Indonesia ingin mendorong penggabungan.  Akan tetapi, proses ini harus berjalan secara alamiah atau harus dipaksa? Secara alamiah sebetulnya lebih baik.  Bank kecil pun bisa berperan, misalnya di lingkungan lokal.

< Sebelumnya   Selanjutnya >
Menu Utama
Home
Adi Harsono
Ali Khomsan
Eddy Satriya
Hadi Soesastro
J Soedradjad D.
Jack M. Niles
Mari Pangestu
Mohammad Sadli
Myra Sidharta
Saparinah Sadli
Setyanto P. Santosa
Shanti L.P.
Tanri Abeng
Lain-lain
Katalog
Artikel
Biografi
Arsip Lama
CPF Luhulima
Desi Anwar
Hadi Soesastro
Iwan Jaya Azis
Jafar Basri
M. Sadli
Mira Sidharta
Sri Mulyani Indrawati
- - - - - - -
Bulletin Kadin
Yay. Padi & Kapas
Artikel/Info Terkait
© Copyright 2005, Pacific Link

Go to the www.pacfiic.net.id Kumpulan Artikel BIOGRAFI