|
Tukul, DPR, dan "Laptop Mania" |
|
|
|
Ditulis oleh Eddy Satriya
|
|
Rabu, 04 April 2007 |
Akhirnya, salah satu aplikasi telematika, yaitu rencana pengadaan dan pemanfaatan laptop untuk anggota DPR, berhasil juga menjadi topik diskusi di berbagai lapisan masyarakat. Sayangnya diskusi yang bergulir bernada miring dan sinis. Tidak kurang dari pengamat politik Arbi Sanit dan rekan saya pengamat telematika Roy Suryo menyiratkan bahwa belum saatnya (semua) anggota DPR memiliki laptop (Kompas, 24/3).
Munculnya tanggapan sinis tersebut kelihatannya disebabkan oleh belum
pahamnya sebagian masyarakat akan manfaat alat ini, di samping mahalnya
harga per unit yang mencapai Rp 21 juta seperti direncanakan Badan
Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR. Lalu, tentu menjadi pertanyaan, apakah
laptop memang bermanfaat untuk anggota Dewan?
Jika seorang pelawak Tukul Arwana saja bisa mengoptimalkan nilai tambah
laptop sehingga secara menakjubkan menjadi presenter top, mengapa kita
justru membatasi penggunaannya? Mengapa harus apriori atau ada
diskriminasi?
Laptop juga sudah digunakan para eksekutif di berbagai tingkatan
birokrasi, termasuk di daerah. Janggal rasanya jika kita memprotes
anggota DPR, sementara dalam sepuluh tahun terakhir miliaran rupiah,
bahkan secara agregat mencapai triliunan rupiah, telah dibelanjakan
untuk membeli laptop di seluruh instansi pemerintah dengan harga yang
tidak jauh beda dengan patokan BURT DPR.
Apalah artinya uang Rp 12 miliar dibandingkan dengan berbagai
pengeluaran lain seperti pembelian mobil-mobil ber-cc besar untuk
aparat yang semakin memboroskan energi? Kurang tepat pula rasanya
mengaitkan biaya pengadaan laptop untuk membangun sekolah yang sudah
punya anggaran yang masih berlebih di Depdiknas.
Harga laptop bervariasi, sekitar Rp 2,5-Rp 25 juta per unitnya,
tergantung fasilitas dan teknologi yang digunakan. Panitia lelang DPR
bisa saja memilih berbagai kombinasi fasilitas dan sistem yang
digunakan untuk mendapatkan harga optimal pada kisaran Rp 15 juta yang
bisa dicapai lebih dari tiga merek yang ada saat ini.
Dengan demikian, harga Rp 21 juta per unit yang dijadikan pagu oleh
BURT DPR tidak perlu dipermasalahkan atau dikhawatirkan akan mengarah
kepada praktik kolusi dan antikompetisi yang melanggar Keppres 80/2003
(Koran Tempo, 24/3). Jika lelang bisa berlangsung dengan baik, bukan
tidak mungkin akan terjadi penghematan yang cukup signifikan.
Memang, mungkin saja tidak semua anggota Dewan mampu menggunakan laptop
saat ini. Namun, bukankah pemanfaatan laptop, sebagaimana halnya PDA
dan ponsel, semakin hari semakin mudah? Banyak user friendly menu yang
terus disediakan berbagai merek untuk konsumennya di tengah persaingan
yang makin sengit. Juga kita tahu, tidak semua anggota Dewan old
fashioned dengan teknologi telematika.
Banyak pula anggota Dewan yang masih muda dan sudah terbiasa dengan
berbagai kemajuan pesat bidang ini. Pemberian laptop dapat memicu
terjadinya persaingan antaranggota Dewan dalam berkarya. Terlebih lagi,
berkomunikasi, berselancar di internet, mengolah kata, foto dan video
saat ini sudah menjadi kebutuhan sehari-hari.
Jika seperlima saja dari anggota Dewan bisa menggunakan komputer, dan
setengah dari jumlah itu terbiasa menggunakan situs pribadi atau blog
seperti yang digunakan selebriti untuk mengomunikasikan buah
pikirannya, maka itu kemajuan besar untuk lembaga legislatif.
Bukanlah mimpi tentunya jika setelah pengadaan laptop akan mulai banyak
anggota Dewan yang berkomunikasi dengan konstituennya dan masyarakat
yang diwakilinya melalui internet. Apalagi jika di gedung DPR pada
saatnya nanti bisa dilengkapi dengan fasilitas wireless LAN, tentu
komunikasi berbagai proses dan hasil keputusan politik bisa dengan
cepat diinformasikan ke berbagai penjuru.
Demikian pula jika anggota Dewan sudah semakin terampil menggunakan
laptopnya, berbagai hasil kunjungan mereka ke daerah dalam bentuk
narasi ataupun foto dan video bisa dengan cepat di-posting di situs
mereka melalui sambungan internet yang tersedia di berbagai hotel,
kafetaria, warnet ataupun fasilitas bandara.
Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan penggalan kumpulan puisi
dari TS Eliot, penulis terkenal kelahiran Amerika Serikat pemenang
Nobel bidang literatur tahun 1948, yang mempertanyakan: "Where is the
life we have lost in living? Where is the wisdom we have lost in
knowledge? Where is the knowledge we have lost in information?"
Eliot dengan jelas merangkai perlunya kita memiliki informasi untuk
menguasai ilmu pengetahuan guna mencapai wisdom dalam menjalani
kehidupan di dunia.
Sejalan dengan tuntutan kehidupan di era globalisasi yang bercirikan
terciptanya masyarakat berbasiskan ilmu pengetahuan, maka kemampuan
untuk memiliki informasi dan menguasai ilmu pengetahuan adalah suatu
keharusan. Kemampuan tersebut hanya bisa dicapai jika kita bisa
mengkompilasi data dan mengolahnya menjadi informasi yang bermanfaat.
Laptop adalah salah satu alat menuju ke sana. |