|
Ditulis oleh Eddy Satriya
|
|
Kamis, 19 April 2007 |
Catatan: Artikel ini ditulis akhir Sept 2003 dan belum sempat dipublikasikan
Rasa mual, sedih, putus asa, amarah dan geram bercampur menjadi satu dalam diri saya tatkala menonton tayangan Televisi (TV) swasta SCTV pada Minggu malam 21 September 2003 lalu. Diperlukan ketenangan diri dan “syaraf baja” untuk menyaksikan tayangan yang mengupas kejadian amoral di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) tersebut hingga tuntas. Walaupun terkadang samar karena kejadian yang direkam dengan kamera video amatir itu berlangsung malam hari, namun apa yang tertayang dilayar kaca tersebut semuanya bisa terlihat dengan jelas dan dimengerti.
Memang ada yang berhasil menahan pukulan tangan dan tendangan sambil
meringis, namun banyak pula yang terjengkang. Ada yang “melingker”
seperti ular sambil memegang perutnya yang baru saja kena pukulan
tangan sejenis “hook” yang diayun sekuat tenaga dari bawah, ada pula
yang terjungkir balik ke belakang setelah menerima tendangan melayang
dibagian dada, atau bahkan ada yang tidak bisa bangun lagi setelah
dipukul dengan dua tangan yang diayunkan dari atas kebagian dada untuk
kemudian digotong keluar arena. Bahkan ada yang tega bertindak pengecut
memukul dari belakang lalu kabur disaat senior lainnya menghajar dari
depan. Sungguh tiada kata dan tata bahasa manapun yang bisa dan pantas
digunakan untuk menggambarkan rentetan siksaan yang dilakukan oleh para
senior terhadap yuniornya di lingkungan kampus perguruan tinggi
kedinasan tersebut. Untunglah acara ekslusif itu ditayangkannya
menjelang tengah malam.
Tak karuan, setelah melihat tayangan tersebut, maka saya pun tidak
mampu lagi membaca berbagai tulisan-tulisan yang mengupas berbagai
siksaan yang dialami siswa STPDN ataupun bilur-bilur kepiluan yang
dirasakan oleh keluarga siswa yang harus mengurus putra-putrinya korban
kekejaman gerombolan senior STPDN.
Kemudian pikiran sayapun tiba-tiba melayang kembali ke awal tahun 80-an
persisnya tahun 1982. Saat itu debu abu letusan gunung Galunggung
menyelimuti kota Bandung. Suara teriakan dan hardikan tak
henti-hentinya terdengar dari dalam Taman Ganesha, persis di depan
pintu gerbang Institut Teknologi Bandung (ITB). Tak lama berselang
terdengar pula suara nyanyian dan suka cita. Rasa ingin tahu sebagai
seorang mahasiswa baru yang datang dari daerah mendorong saya untuk
melihat langsung apa yang terjadi disana. Bersama beberapa teman, dari
celah rimbunnya tanaman dan bunga bisa disaksikan bahwa di dalam taman
itu sedang berlangsung aneka ragam perpeloncoan dari beberapa jurusan
di ITB. Senior jurusan “ngerjain” yuniornya yang hendak masuk himpunan.
Namun hampir tidak ada terlihat kontak fisik antara senior dan
yuniornya. Semua berjalan dengan “sesuai aturan”. Sekali lagi tidak ada
pukulan, tamparan apalagi tendangan melayang ala Jacky Chan atau Bruce
Lee sebagai bagian dari kontak fisik antara panitia dengan yang
dipelonco.
Kemudian terlintas pula berbagai bayangan perpeloncoan yang pernah saya
alami. Hampir sama dengan kejadian yang menimpa senior di atas saya,
kami pun menjalani berbagai bentuk variasi perpeloncoan untuk masuk
himpunan jurusan. Sebagai mahasiswa yang haus akan pengalaman baru dan
juga karena keterbatasan dana pendidikan, sayapun memutuskan untuk
masuk asrama di jalan Ganesha 15F. Berbagai bentuk perpeloncoan pun
kembali saya jalani. Mulai dari harus bangun paling pagi, menjaga
tersedianya air, menghidupkan dan mematikan lampu rumah dan taman,
mematikan TV dimalam hari dan puluhan bentuk pembinaan mental. Hukuman
tetap ada baik karena kesalahan pribadi ataupun kesalahan kolektif
sesama yunior. Namun sekali lagi, tidak ada kontak fisik antara senior
dengan yang dipelonco. Mungkin itulah yang membedakan perpeloncoan yang
saya dan juga mahasiswa perguruan tinggi lain dengan yang harus dialami
oleh mahasiswa yunior di STPDN Sumedang.
***
Rasanya tidaklah banyak manfaatnya pada saat-saat seperti sekarang ini
untuk menggali lebih jauh asal usul perpeloncoan. Akan terkesan mubazir
dan percuma. Sepatutnyalah kita mengkaji langkah kedepan tentang
bagaimana harus memperlakukan perpeloncoan. Harus ada keputusan yang
tegas, hitam atau putih. Bukan abu-abu. Terlebih lagi melihat
reaksi-reaksi “norak” dari para elite pimpinan yang masih senang
berdebat tanpa ada keputusan tegas tentang perpeloncoan. Kita sudah
terlalu kejam dan tega menyiksa diri sendiri dalam posisi yang tidak
jelas. ?
Hampir setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan menengah dan
tinggi di Republik ini mengenal perpeloncoan dalam berbagai bentuk dan
variasinya. Ada yang mengenalnya sejak masuk sekolah menengah tingkat
pertama, sekolah menengah tingkat atas ataupun di saat memasuki
perguruan tinggi. Perpeloncoan telah meninggalkan kenangan, nostalgia
atau malah”nightmare” bagi setiap orang. Ada yang pro, tentu ada pula
yang kontra.
Mengapa kita harus menegaskan sikap menghadapi berbagai bentuk
perpeloncoan ini? Ada beberapa alasan. Pertama, darah dan jiwa muda
baik untuk senior dan yunior yang dipelonco memang tidak mudah
dikendalikan. Hampir dapat dipastikan akan terjadi penyimpangan dari
aturan main yang telah disepakati antara pimpinan sekolah dengan
panitia. Kedua, tugas-tugas yang diberikan oleh senior walaupun sudah
dibuat dengan kreatifitas dan inovasi tinggi untuk berbiaya murah,
masih akan dirasakan mahal pada saat kondisi keterpurukan ekonomi masih
berlangsung. Kalaupun murah, waktu yang sangat terbatas mengakibatkan
biaya tinggi juga. Ketiga, kecenderungan yang ada saat ini berbagai
bentuk perpeloncoan sering diadakan diluar sekolah atau kampus sehingga
sangat sulit untuk mengontrol. Keempat, persiapan antisipasi untuk
menanggulangi berbagai bentuk kecelakaan dengan menyediakan peralatan
dan tenaga medik yang memadai sering diremehkan. Terakhir, berbagai
bentuk perpeloncoan yang dilaksanakan oleh para senior ini sudah tidak
dijumpai lagi di banyak negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Berbagai pertimbangan di atas dan kondisi negara yang sangat
membutuhkan banyak perhatian di berbagai sisi kehidupan diharapkan
mampu membuka mata para pengambil keputusan tentang aturan pendidikan.
Hendaknya Kantor Kementerian Pendidikan Nasional (Diknas) bisa
menginstruksikan secepat-cepatnya kepada semua jajarannya mengkaji
ulang kondisi ini. Jujur saja, pekerjaan tidaklah layak untuk
diproyekkan yang harus menunggu siklus perencanaan dan pembiayaan
pembangunan selama satu tahun. Stop perpeloncoan. |