|
Lagu juga Menunjukkan Bangsa |
|
|
|
Ditulis oleh Eddy Satriya
|
|
Jumat, 12 Januari 2007 |
Peristiwa ini terjadi awal April 2006 lalu ketika saya menyetel lagu
Lately yang disenandungkan penyanyi berkulit hitam Salena Jones.
Beberapa saat setelah bagian awal lagu yang dipopulerkan Stevie Wonder
itu mengalun, puteri kedua saya yang sedang asyik menggambar tiba-tiba
bertanya: ”Pa, itu lagu Tulus pakai bahasa Inggris ya?”. Saya tidak
langsung menjawab, dan ia pun meneruskannya mewarnai beberapa gambar.
Pertanyaan anak saya yang baru duduk di Taman Kanak-Kanak itu sangat
mengusik. Bukan karena ia lebih memahami lagu remaja atau orang dewasa,
tetapi karena anak saya ternyata juga merasakan “kemiripan” antara lagu
pop Tulus yang menjadi salah satu hit sebuah group band negeri ini
dengan Lately.
Kebetulan saya memang sudah lama penasaran. “Kemiripan” itu telah saya
rasakan ketika saya diminta mengiringi Tulus. Insting dan jari tangan
saya dengan otomatis mengikuti alur chords Lately, salah satu lagu
favorit saya sejak pertama kali saya dengar pada Agustus 1982. Bagi
pemusik lintas generasi, mengiringi Tulus dengan gitar atau piano tentu
tidak akan mengalami kesulitan karena susunan bait dan alur chords
lagunya memang nyaris sama dengan Lately. Belum lagi kalau ditinjau
dari isi lagu. Lirik-lirik Tulus yang meragukan ketulusan hati sang
kekasih dalam mencintai, juga nyaris “klop” dengan Lately. Simaklah
kuatnya makna penggalan lirik “Just the other night while you were
sleeping/I vaguely heard you whispered someone’s name”. Singkat kata,
lagu Tulus memang sangat “mirip” dengan Lately.
Bagi orang awam, penggemar musik biasa, atau seniman yang lahir berbeda
generasi cukup jauh, “kemiripan” kedua lagu tersebut bisa saja menjadi
suatu yang wajar dan tidak menarik perhatian. Namun bagi para pemusik
handal atau penikmat musik fanatik, maka “kemiripan” itu mustahil
tidak diketahui. Menjadi pertanyaan tentunya, mengapa semua membisu dan
mendiamkan saja? Apakah benar belasan program infotainment hanya
memburu berita sensasi? Apakah diantara pemusik dan penyanyi juga
berlaku slogan “Sesama Bus Kota Dilarang Saling Mendahului”?
***
Mirip memang tidak otomatis identik dengan menjiplak. Dari berbagai
definisi semua itu bisa diperdebatkan. Namun demikian, meskipun tidak
ada batasan baku, semangat seni dari dulu memang saling menghargai
karya cipta dengan moralitas tinggi. Di tengah majunya dunia musik
negeri ini, sudah selayaknya juga banyak kritikus seni yang secara jeli
menjaga agar dunia seni tidak sampai tercederai seperti halnya berbagai
bidang kehidupan lain yang sudah carut marut.
Jika kita menengok ke belakang, masalah jiplak menjiplak lagu sudah
pernah gencar dibahas dalam berbagai kesempatan. Namun gaungnya hilang
sejalan dengan semakin maraknya pembajakan musik dan lemahnya penegakan
hukum dagang. Beberapa kali Chandra Darusman, Franky Sahilatua, dan
artis lainnya pada kurun 1990-an gencar membahas bajak-membajak dan
jiplak-menjiplak lagu. Namun langkah besar itu kelihatannya berhenti
begitu saja.
Menariknya lagi gejala “kemiripan” lagu yang terjadi di negeri kita
dengan lagu lain yang sudah lebih dulu populer itu justru muncul dari
kalangan artis yang sedang naik daun. Karena penyanyi atau penciptanya
sedang “ngetop”, maka sepertinya boleh dimaafkan. Kental sekali terasa
sikap memaklumi yang biasanya terjadi di lingkungan sosial politik,
juga telah mewabah dan merasuki sendi-sendi mulia bidang seni yang
sangat menghargai orisinalitas suatu karya cipta. Jelas ini suatu
penurunan nilai-nilai yang harus segera dihentikan. Bagaimanapun pelaku
seni meletakkan kepuasan karya seni di atas segalanya.
Gejala miripnya lagu bukan hanya terjadi sekarang. Sulit dilupakan
kalau lagu “Antonio’s Song” nya Michael Frank juga sangat mirip dengan
lagu pop manis berjudul “Keraguan” yang dinyanyikan oleh duo penyanyi
pria kita yang sangat populer di tahun 1980-an. “Kemiripan” lagu juga
terjadi untuk beberapa lagu daerah yang sangat populer. Tidak jarang
lagu yang sudah dianggap hasil karya bermutu putera daerah, ternyata
memiliki padanan lagu yang sangat mirip baik dari komposisi nada maupun
lirik. Lihat saja lagu Panon Hideung dari Jawa Barat yang terkenal itu
tidak bisa dibedakan dengan lagu latin “Cotzi Cortina” yang juga
berarti Si Mata Hitam. Begitu pula Kopi Dangdut yang sudah menjadi hit
dalam blantika musik dangdut anak negeri ini tidak bisa dibedakan
dengan versi latinnya. Sebuah lagu daerah dari Minangkabau Kamiri yang
berirama swing juga ternyata mirip dengan sebuah lagu jazz standar
“A-Tisket, A-Tasket”.
***
Musik memang tidak bisa dipisahkan dari bisnis. Karena itu berbagai
penyimpangan juga dimaklumi bisa terjadi. Blantika musik nasional saat
ini memang sedang marak. Meskipun pembajakan masih menjadi momok, namun
berkat kemajuan dan konvergensi teknologi, majunya media cetak dan
elektronik, serta perkembangan iklan yang makin baik telah membuat
musik menjadi industri alternatif yang menjanjikan. Munculnya pemusik
berbakat alam maupun yang lewat jalur akademik telah menyemarakkan
industri musik nasional dalam 10 tahun terakhir dan mampu menyerap
banyak tenaga kerja.
Kepakaran beberapa musisi besar Indonesia dan pelaku bisnis di bidang
ini telah berhasil meningkatkan kesempatan penampilan karya musik
melalui berbagai show baik di pelosok negeri ataupun ke negara
tetangga. Begitu pula berbagai kemajuan penting dalam perfilman
nasional dan dunia infotainment dan edutainment lainnya telah secara
langsung menggairahkan dunia musik nasional. Suksesnya hajatan Java
Jazz 2006 yang lalu di Jakarta menjadi bukti bahwa kita adalah juga
bangsa yang besar di bidang seni.
Namun demikian berbagai kemajuan yang telah dicapai dunia musik
nasional, baik yang berakar dari budaya sendiri ataupun sebagai dampak
globalisasi, tidak seharusnya bisa mentolerir berbagai “kemiripan”
karya cipta seni orisinal yang tidak ternilai. Apalagi tanpa ada
penjelasan tuntas tentang penciptanya. Begitu pula popularitas, omzet,
serta kelangsungan kontrak dalam bisnis musik tidak bisa menjadi
pertimbangan untuk mendiamkan berbagai perilaku buruk dan rendahnya
moral sebagian artis yang memaksakan diri mencari jalan pintas. Kalau
itu terjadi, semestinya para pemusik muda terus diingatkan agar tetap
mempertahankan idealisme mereka.
Sikap sportif dan menjunjung tinggi karya orang lain juga semestinya
dapat dipertahankan di dunia seni. Dalam kondisi negara yang sedang
terpuruk di berbagai bidang, maka bidang seni - termasuk musik- kiranya
menjadi salah satu dari sedikit alternatif tersisa yang masih bisa
dibanggakan. Musik, lagu, dan karya seni lainnya seharusnya tidak
terseret kedalam nilai-nilai rendah.
Jika pemimpin sudah banyak yang semakin jauh dari rakyatnya, jika
birokrat sudah semakin sulit lepas dari kekuasaan, jika pebisnis masih
belum bisa meninggalkan praktek suap-menyuap dan mark up, ketika
sebagian profesor kita juga tidak kalah kotor, dan ketika sebagian para
kiai pun sudah mencampuradukkan berdakwah, berbisnis, dan berpolitik di
negeri ini, maka hanya kepada pelaku seni lah kita bisa mengharap
independensi suatu karya orisinal yang masih dijunjung tinggi oleh
idealisme.
Maka pemusik dan penyanyi teruslah berkarya dengan idealisme penuh. Musik dan lagu juga bisa menunjukkan bangsa. |
|
|