Kamis, 18 Desember 2014
Artikel Terkini
Artikel Populer
G-8, Indonesia, dan Telematika PDF Cetak E-mail
Penilaian pengunjung: / 3
JelekBagus sekali 
Ditulis oleh Eddy Satriya   
Kamis, 15 Juli 2004
Pertemuan puncak para pemimpin kelompok negera maju (G8) di Sea Island,
Georgia, Amerika Serikat (AS), yang berlangsung tanggal 8 - 10 Juni 2004
lalu, mengagendakan penghapusan utang bagi negara miskin, peran Pakta
Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Irak, dan kerangka kesepakatan
perdagangan global. Pertemuan puncak tersebut juga telah merekam saling
sindir antara Presiden AS George W Bush dan beberapa pemimpin negara Eropa
tentang pertumbuhan ekonomi. Namun ada satu wacana yang menggugah saya,
yaitu pandangan yang disampaikan oleh pemimpin Italia. Dalam pertemuan itu, PM Italia Silvio Berlusconi menyampaikan niatnya untuk
mengundang Cina dan India dalam pertemuan G-8 selanjutnya. Berlusconi
berpendapat bahwa membicarakan prospek ekonomi global di masa depan tidaklah
masuk akal tanpa melibatkan kedua negara besar di Asia tersebut. Usulan PM
Italia ini sudah seharusnya kita cermati dan antisipasi dalam menyongsong
era globalisasi dan kompetisi yang sebenar-benarnya.

Meski banyak ekonom meragukan statistik ekonomi kedua negara, khususnya
Cina, tidak bisa dimungkiri bahwa potensi ekonomi dan pasar yang besar
memang telah membuat keduanya semakin tidak bisa diabaikan. Usulan
Berlusconi tersebut saya katakan menggugah, karena di samping kemajuan di
berbagai sektor ekonomi, Cina dan India sebenarnya masih merupakan negara
yang tergolong middle dan lower income country. Namun keduanya telah
berhasil memanfaatkan kemajuan dalam bidang Information and Communication
Technology (ICT) untuk mendorong pertumbuhan ekonominya.

ICT yang saat ini sering didefinisikan sebagai konvergensi dari
telekomunikasi, teknologi informasi (IT), multimedia dan penyiaran, telah
menjadi alternatif industri baru bagi Cina dan India pasca-serangan teroris
11 September 2001. Dalam Bahasa Indonesia, ICT dikenal juga dengan istilah
telematika.

Menariknya, kemajuan yang telah diraih Cina dan India dalam telematika
sebenarnya dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana, bukan dari suatu
program besar pemerintah. Cina mengalami booming kegiatan outsourcing
beberapa industri komputer besar AS pada awal 1990-an. Bermula dari
tingginya kebutuhan akan tenaga programmer dan operator Electronic Data
Processing untuk memproses data dalam penyusunan perangkat lunak, seperti
kamus dan ensiklopedi.

Kemampuan sumber daya manusia Asia yang di atas rata-rata untuk bidang
eksakta telah sangat membantu perkembangan telematika di daratan Cina.
Ditambah lagi banyaknya tenaga muda lulusan universitas di Amerika Serikat
dan Eropa yang memilih kembali pulang kampung. India, di sisi lain, sedikit
lebih beruntung.

Seorang rekan saya warga negara India yang juga menjabat sebagai senior
economist di Asia Development Bank, pada bulan Juni 2001 membuka rahasia di
balik sukses India memajukan industri telematika, khususnya dalam
menumbuhkembangkan pusat-pusat riset dan industri IT lokal, baik untuk
hardware maupun software.

Ia mengungkapkan bahwa bersamaan dengan booming industri IT di AS pada
pertengahan 1990-an, India secara kebetulan baru saja menyelesaikan
pendidikan tinggi secara besar-besaran khusus untuk tenaga di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi di berbagai universitas terkenal di dunia. Persis
seperti program yang pernah dilaksanakan mantan Menristek BJ Habibie dalam
merekrut lulusan terbaik SMA dikurun waktu 1980-1990, untuk disekolahkan
keluar negeri lalu kemudian ditempatkan dalam beberapa industri strategis
ataupun instansi pemerintah.


Faktor SDM

Faktor SDM di Cina dan coincidence yang sangat menguntungkan di India, telah
mampu membuka tambahan lapangan kerja baru. Anjloknya harga saham perusahaan
IT dan rontoknya perusahaan dotcom pasca WTC New York, juga telah memaksa
profesional IT India dan China untuk mencari pekerjaan keluar AS, dan
mengambil langkah B to B dan B to C. Bukan Business to Business atau
Business to Citizien/Consumer, tapi "Back to Bengalore" dan "Back to
Chinnai". Kesemua itu telah memberikan kontribusi besar bagi ekonomi kedua
negara.

Bila dilihat perbandingan makro ekonomi dan kondisi telematika, Cina dan
India telah maju pesat dalam penyediaan prasarana telekomunikasi yang
terlihat dari total pelanggan telepon, maupun dalam hal investasi
telekomunikasi, serta aksesibilitas Internet dan TV Kabel. Meskipun
sama-sama tergolong negara miskin, Cina dan India jauh meninggalkan
Indonesia.

Total pelanggan telepon Cina pada tahun 2001 sudah mencapai 323 juta satuan
sambungan (ss), India 40 juta ss, sedangkan kita baru 13 juta ss. Jika
menggunakan data awal 2004, pelanggan telepon selular memang meningkat pesat
hingga memberikan angka total pelanggan telepon menjadi sekitar 30 juta ss.
Namun Cina dan India telah meningkat dengan lebih cepat lagi. Dari sisi
pengguna Internet pun kita tertinggal cukup jauh, terutama dari Cina.

Memperhatikan kemajuan India dan Cina, sudah sewajarnya kita melihat pula
perkembangan yang telah dicapai Indonesia. Walaupun belum maksimal,
Indonesia telah menikmati lumayan banyak peluang bisnis di sektor
telematika.

Sebut saja peningkatan jumlah penggunaan komputer di rumah tangga, sekolah
dan perkantoran, kemajuan dunia multimedia dan hiburan yang membutuhkan
perangkat telematika cukup besar, ritel aksesori telepon selular yang
menjamur, dan kebutuhan berbagai jenis perangkat komputer dan telekomunikasi
untuk memenuhi hasrat berkomunikasi data yang murah.

Tidak ketinggalan pula manfaat yang telah dinikmati media masa
cetak/elektronik dan sektor riil lainnya yang menyerap banyak tenaga kerja.
Menjadi pertanyaan sekarang, akankah kemajuan tersebut dapat ditingkatkan,
atau setidaknya dipertahankan setelah terbentuknya pemerintahan baru perioda
2004-2009? Mungkinkah suatu saat nanti kita juga menjadi negara yang
dipertimbangkan sebagaimana halnya Cina dan India?

Pertanyaan bernada kekhawatiran tersebut sudah sewajarnya mencuat. Walaupun
banyak kemajuan yang telah dicapai, masih ada beberapa kendala yang
membatasi sampainya jasa telematika dengan mutu layanan yang baik,
aksesibilitas yang luas dan harga yang terjangkau kepada seluruh lapisan
masyarakat.

Sebut saja kendala geografis, rendahnya daya beli sebagian besar masyarakat,
kebijakan yang masih belum pro-kompetisi sesuai amanat Undang-Undang
Telekomunikasi No 36 Tahun 1999, mahalnya biaya investasi, rendahnya
awareness masyarakat dan pejabat akan potensi telematika, tarif yang belum
menunjang, serta belasan kendala lainnya yang tidak akan habis-habisnya
dibahas. Kesemuanya itu membuat usaha memperkecil digital divide semakin
tidak mudah.

Maju tidaknya telematika Indonesia sesungguhnya selain tergantung kepada
upaya pengembangan sektor itu sendiri, juga sangat ditentukan oleh sasaran
pembangunan masyarakat (society) seperti apa yang akan dituju dalam jangka
menengah dan jangka panjang. Diperkirakan program pembangunan pemerintah
mendatang masih akan difokuskan kepada usaha-usaha mempertahankan Negara
Kesatuan RI, meneruskan program reformasi kepemerintahan dan kehidupan
berpolitik, mengatasi pengangguran, dan meningkatkan pelayanan sosial dasar
kepada masyarakat.

Sayangnya setelah meneliti berbagai program pembangunan yang ditawarkan lima
pasang capres dan cawapres, kita memang terpaksa mengurut dada karena nyaris
tidak ditemukan kata-kata "telekomunikasi", "informasi", apalagi
"telematika" dalam rangkaian program mereka.

Namun kondisi itu tidak harus membuat kita pesimistis. Kita juga salah satu
bangsa besar dan pernah berjaya dibidang telematika, khususnya
telekomunikasi satelit. Kemampuan SDM dibidang eksakta juga tidak kalah
dibandingkan Cina dan India. Karena itu semakin menjadi tantangan bagi
seluruh stakeholder telematika di Indonesia untuk memberikan masukan kepada
pemerintahan baru terpilih nanti.
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Menu Utama
Home
Adi Harsono
Ali Khomsan
Eddy Satriya
Hadi Soesastro
J Soedradjad D.
Jack M. Niles
Mari Pangestu
Mohammad Sadli
Myra Sidharta
Saparinah Sadli
Setyanto P. Santosa
Shanti L.P.
Tanri Abeng
Lain-lain
Katalog
Artikel
Biografi
Artikel/Info Terkait
© Copyright 2005, Pacific Link

Go to the www.pacfiic.net.id Kumpulan Artikel BIOGRAFI