Kamis, 09 September 2010
Artikel Terkini
Artikel Populer
BAU YANG PALING BERBAHAYA PDF Cetak E-mail
Penilaian pengunjung: / 3
JelekBagus sekali 
Ditulis oleh Eddy   
Rabu, 03 November 2004
Ketika pertanyaan “Bau apa yang paling berbahaya?” diajukan kepada beberapa orang, bisa diperkirakan bahwa jawaban yang diperoleh akan beragam. Seorang bupati dari sebuah kabupaten yang bertetangga dengan DKI Jakarta mungkin akan menjawab bahwa bau yang paling berbahaya baginya adalah bau sampah yang dikirim penduduk Jakarta. Bagi Sang Bupati, bau berjuta kubik sampah yang tidak tertangani dengan baik dapat membahayakan kedudukannya. Sementara itu, seorang mahasiswi kedokteran tingkat pertama mungkin menjawab bau yang paling berbahaya adalah amisnya darah. Ketidakmampuan beradaptasi dengan amis darah bisa menyebabkan ia drop-out dan menyia-nyiakan masa depan serta puluhan juta yang telah disetorkan ke fakultas. Jika pertanyaan itu mendadak diajukan kepada seorang dokter gigi yang sangat higienis mungkin akan menjawab bau yang paling berbahaya bagi Sang Dokter adalah bau mulut seorang lelaki perokok. Karena bau yang tidak bisa ditangkalnya dengan “masker” dapat mengganggu mutu kerja dan merusak citranya. Sedangkan untuk seorang Kiyai atau Buya yang disegani dari sebuah pondok pesantren atau surau, mungkin jawabannya adalah bau kentut yang sangat mengganggu ditengah berlangsungnya pengajian. Sang Buya bisa saja tidak terlalu terganggu dengan bau kentut, tetapi justru lebih sewot dan sangat marah ketika tidak ada santri yang mengaku dan meminta maaf. Bagi Sang Buya berlaku pepatah “tangan mencincang, bahu memikul” yang perlu dihayati para santri.
***
Membahas perihal bau yang paling berbahaya ini, ada baiknya kita menyimak Andrew Tobias, seorang pakar internasional dibidang investasi. Tobias, penulis buku-buku terkenal seputar “Invesment Guide” menuliskan “There is no smell more dangerous or costly than the new car smell”. Bau mobil baru ternyata yang paling berbahaya baginya. Pernyataan tersebut secara tersirat menghimbau untuk tetap hidup sederhana dan cerdik berinvestasi. Paham yang sama juga dianut oleh Robert W. Bly, seorang pengajar marketing dan writing di New York University yang berhasil menjadi millionaire pada usia 30 tahun. Ia tetap memilih mengendarai mobil Chevrolet Chevette-nya yang telah berumur 11 tahun dan dibelinya hanya dengan beberapa US$ ribu pada tahun 1984.
Sejalan dengan globalisasi, sindrom mobil-mewah sebagai simbol status memang telah menjalar ke seluruh penjuru dunia. Perilaku orang-orang yang menjadikan mobil sebagai simbol statusnya dengan menarik telah dikupas Thomas J. Stanley dan Willian D. Danko dalam buku “The Millioniaire Next Door”. Stanley dan William juga mengungkapkan bahwa orang-orang yang berasal dari rakyat biasa dan berhasil memiliki banyak harta, justru cenderung lebih memilih hidup sederhana, mampu mengalokasikan waktu, energi dan uangnya secara lebih efisien, dan berpendapat bahwa “financial independence” jauh lebih penting dibandingkan dengan memamerkan status sosial yang tinggi.
Sindrome mobil-mewah juga tidak luput melanda Indonesia yang masih tergolong negara miskin. Nafsu tinggi masyarakat lapisan atas Indonesia memamerkan mobil mewah juga terlihat jelas setiap pagi dan petang di jalanan ibukota yang macet. Seliweran Mercedes Benz, Lexus, Infiniti, BMW, Land Rover, Jaguar, dan Audi seri terbaru telah menjadi pemandangan biasa di sepanjang jalan tol dan protokol.
Pada tahun ini kegilaan masyarakat Indonesia akan mobil mewah untungnya luput dari pemberitaan pers karena tersaput berita ledakan bom mobil Kuningan di depan Kedutaan Besar Australia 9 September 2004 yang lalu. Saya sebut kegilaan karena pada posisi tanggal yang sama dalam Jakarta Motor Show 2004 di Senayan, sudah belasan orang tercatat sebagai pembeli mobil super mewah Bentley dengan harga satuan sekitar Rp 5 Milyar! Belum terhitung mobil mewah dengan kelas dibawahnya yang berharga dari Rp 1 hingga Rp 3 milyar. Kegilaan, karena mobil seharga Rp 5 milyar tidaklah mungkin akan sepuluh kali lipat lebih baik dari mobil seharga Rp 500 juta dari sisi kenyamanan dan kinerja. Selisih harganya yang mencapai Rp 4,5 Miliar hanyalah untuk mencerminkan status mengendarai mobil mewah.
***
Namun perilaku sebagian masyarakat Indonesia untuk memenuhi garasinya dengan mobil mewah atau bahkan terkadang malah ada yang saya saksikan menumpang parkir di rumah orang lain, diperkirakan akan terkendala. Pasalnya, kematangan pemikiran, kesederhanaan gaya hidup atau mungkin juga pemahaman tentang tentang berbahayanya bau mobil mewah dan mobil baru, telah mendorong pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk menolak menggunakan sedan Volvo sebagai kendaraan dinas mereka. Hidayat Nur Wahid yang terpilih secara demokratis menjadi Ketua MPR periode 2004-2009 telah memberikan teladan dengan menyampaikan niatnya serta pimpinan MPR lainnya untuk menolak Volvo pada tanggal 13 Oktober lalu di Gedung DPR/PMR Senayan (Detikcom, 14/10/04).
Walaupun beberapa pejabat tinggi negara lainnya ada yang skeptis dan tidak melihat penolakan mobil mewah sebagai penghematan yang berarti, sikap Ketua MPR itu telah membuat angin segar perubahan bertiup ditengah masyarakat Indonesia. Sungguh suatu hal yang menyejukkan hati melihat salah satu pimpinan lembaga tinggi negara mampu memulai langkah teladan yang sudah sangat lama ditunggu-tunggu rakyat Indonesia.
Menjadi pertanyaan sekarang, seberapa jauhkah langkah yang telah dimulai pimpinan MPR ini dapat ditiru para pejabat lainnya? Kita optimis, perubahan demi perubahan akan terus terjadi. Dalam pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu pada tanggal 21 Oktober lalu terlihat bahwa banyak Menteri yang datang dan pergi dari istana dengan kendaraan yang tidak tergolong mewah. Hal ini terus berlanjut dan terlihat ketika menghadiri Sidang Kabinet pertama esok harinya.
Jika dilihat kebelakang, masuknya mobil mewah dengan cc besar memang memuncak pada pemerintahan setelah Presiden Suharto meletakkan jabatan. Justru di dalam masa orde reformasilah impor mobil mewah secara built-up makin menjadi-jadi setelah diizinkan Deperindag waktu itu. Akibatnya, bau mobil mewah ini bukan hanya mewabah di Jakarta dan kota-kota besar, tetapi juga sampai ketingkat kabupaten dan kota sejalan dengan semaraknya otonomi daerah. Tidak hanya mobil mewah yang baru, ratusan mobil mewah bekas pun masuk menyerbu ke berbagai pelosok negeri, baik secara legal ataupun melalui usaha penyelundupan.
***
Pemahaman akan berbahayanya bau mobil baru nan mewah memang baru diangkat lagi ke permukaan. Kita memahami adalah hak asasi setiap orang untuk bebas membelanjakan hartanya. Agak terlalu dini menilai apakah gerakan ini akan bisa ditularkan kepada berbagai lapisan pejabat maupun masyarakat. Namun sudah selayaknya kita optimis, serta terus mendorong bergulirnya gerakan untuk menyadari bahwa negara ini lebih memerlukan investasi yang efektif dan efisien, membutuhkan pemasyarakatan pola hidup sederhana, dan tidak menjadikan pembelian durable goods seperti mobil sebagai cara berinvestasi yang dapat memancing kecemburuan sosial ditengah masyarakat yang tengah dililit krisis multidimensi.
Terpilihnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memimpin negara ini tentu saja diikuti berbagai harapan untuk memperbaiki kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Karena itu tidaklah salah rasanya Presiden SBY juga diandalkan untuk mendukung pola hidup sederhana dan menjauhi penggunaan mobil mewah bagi aparat pemerintah, termasuk militer. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa selain para profesional, pengacara, dan pejabat sipil, maka sebagian pejabat militer juga sangat dimanjakan dengan fasilitas mobil dinas yang tergolong mewah. Sekali lagi, “There is no smell more dangerous or costly than the new car smell”. Semoga harapan ini tidak salah tempat dan sia-sia.
< Sebelumnya   Selanjutnya >
Menu Utama
Home
Adi Harsono
Ali Khomsan
Eddy Satriya
Hadi Soesastro
J Soedradjad D.
Jack M. Niles
Mari Pangestu
Mohammad Sadli
Myra Sidharta
Saparinah Sadli
Setyanto P. Santosa
Shanti L.P.
Tanri Abeng
Lain-lain
Katalog
Artikel
Biografi
Artikel/Info Terkait
© Copyright 2005, Pacific Link

Go to the www.pacfiic.net.id Kumpulan Artikel BIOGRAFI