Rabu, 19 Juni 2013
Artikel Terkini
Artikel Populer
The end of Cheap Oil:Mencari Kambing Hitam PDF Cetak
Penilaian pengunjung: / 4
JelekBagus sekali 
Ditulis oleh Administrator   
Jumat, 11 Juli 2008

5 Juli 2008 Jakarta
Dua hari menjelang hari kemerdekaan Amerika 4 Juli, harga minyak mentah dunia menembus US$ 145 per barel. Bagi banyak pemakai, angka ini sudah gila, tentu inibukan angka gila terkahir, bakal ada yang lebih gila lagi, karena ada beberapapengamat energi dunia meramalkan dalam satu tahun ke depan harga minyak bakaltembus US$ 200 per barel. Sejak awal tahun 2004 harga minyak sudah naik tiga kali lipat,pada enam bulan pertama tahun ini saja sudah naik lebih dari 100%.
Untuk mengerti gejolak terakhir ini, mari kita tinjau dulu dari Supply dan Demand minyakmentah dunia.

Dua tabel di bawah ini adalah data pada akhir tahun 2006 yang direlis IEA (International Energy Agency).

10 Produsen Terbesar (juta barel per hari)

grafik_produsen.png

10 Pemakai Terbesar (juta barel per hari)

grafik_terbesar.png

 

OPEC dan non-OPEC
Ada dua kelompok penghasil minyak, yang tergabung dalam organisasi OPEC dan yangbukan anggota OPEC. Setelah Indonesia gagal meningkatkan produksi nasional untukmemenuhi kebutuhan dalam negeri sejak 2006, secara teknis Indonesia sudah tidak lagimenjadi pengekspor minyak mentah, sehingga keanggotaan Indonesia menjadi canggung,sampai pemerintah memutuskan untuk keluar dari keanggotaan OPEC rencana tahun2008 ini. Kini organisasi kartel minyak dunia ini hanya tinggal 12 anggota negara, SaudiArabia, UAE, Iran, Venezuela, Kuwait, Nigeria, Angola, Libia, Irak, Algeria, Qatar dan Ecuador. Kontribusi produksi OPEC adalah sekitar 38% dari total minyak mentah yang diproduksi dunia. Tapi cadangan migas anggota OPEC mencapai 77% dari total cadangandunia.
Negara-negara penting penghasil minyak bukan OPEC antara lain: Rusia, Brasil,Kazakhstan dan Mexico. Rusia adalah produsen nomor 2 setelah Saudi Arabia. Mereka kini menyumbang 60% lebih dari kebutuhan dunia, tapi cadangannya hanya 22% daridunia.
Menurut data IEA, tahun ini dunia rata-rata konsumsi minyak mentah per hari akanmencapai 87.2 juta barel, naik 1.4 juta barel per hari dibandingkan tahun 2007.Sedangkan produksi rata-rata tahun ini ditargetkan mencapai 87 juta barel per hari.Dengan rencana tambahan produksi dari Saudi Arabia sebanyak 300,000 barel per hari, diharapkan ada sedikit surplus di supply. Lalu mengapa harga minyak masih saja melambung ? Siapa yang menentukan berapa banyak minyak yang diprodukasikan perhari ? Lalu bagaimana harga minyak mentah itu ditentukan ?
Adalah tugas OPEC untuk mengatur supply mengimbangi permintaan dunia, dengandemikian mencapai harga minyak mentah pada tingkatan yang bisa diterima olehanggota-anggota OPEC.
Bulan April tahun ini produksi OPEC sempat turun 400 ribu per hari, karena kekacauan sosial dan politik di Nigeria dan Irak. Di antara anggota OPEC, hanya Saudi Arabia dan Iran yang mempunyai kepasitas untuk meningkatkan produksi per hari. Bulan lalu Saudi memutuskan untuk menambah produksi 300 ribu barel mencoba mengerem harga miyakyang terus meroket. Sayangnya Iran masih kena embargo, jadi tidak banyak kontribusinyasaat ini.
Dengan mengurangi atau menambah produksi, OPEC berharap menstabilkan hargaminyak dunia.
Sedangkankan bagi negara-negara non-Opec, mereka bebas memproduksi minyaksebanyak-banyaknya untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, akan tetapi ini akanmengakibatkan penyusutan cadangan minyak mereka makin cepat.
Mencari Kambing Hitam
Apa yang mengakibatkan harga minyak meroket beberapa tahun ini? Banyak yangmencari kambing hitam:

  1. Faktor Tiongkok dan India, dua negara berpenduduk paling padat ini dengan pertumbuhan ekonomi 5 tahun terakhir terus melesat tentu membutuhkan energi lebihbanyak. Jumlah mobil yang diproduksi di Tiongkok tahun 2007 saja sudah mendekati 7 juta unit per tahun. Ketika Tata mengumumkan mobil murah Tata-Nanonya (US$ 2,500)awal tahun ini, banyak pengamat energi yang khawatir mobil murah ini kalau sudahmembanjiri India, kebutuhan minyak mentah India bakal meningkat tinggi.
  2. Faktor Amerika, tentu Tiongkok dan India cepat cepat membela diri, dan balas menuduhAmerika sebagai sumber semua petaka. Jatuhnya nilai dolar, perang Irak dan Afganistan yang tidak juga berakhir, kebijakan luar negeri yang haus perang menghabiskan BBM secara sia-sia untuk menjalani mesin-mesin perangnya dan jugaborosnya rakyat Amerika dalam konsumsi BBM sehari-hari. India dan Tiongkok dengan mudah bisa menunjukkan bukti bahwa Amerika yang berpenduduk hanya 310 juta jiwa tiap hari konsumsi sekitar 21 juta barel minyak mentah, sedang India di tambah Chinayang penduduknya 2.4 miliar jiwa hanya mengkonsumsi total tidak sampai 10 juta barelper hari. Jadi setiap orang Amerika membakar 0.07 barel per hari, sedang Tiongkok plus India cuma konsumsi 0.004 barel, dengan kata lain tiap penduduk Amerika menghabiskan 18 x penduduk India plus Tiongkok. Jadi yang boros itu siapa ?
  3. Faktor stabilitas politik dan sosial, di negara-negara penghasil minyak sperti Nigeria,Irak, Ethiopia dan embargo terhadap Iran, sangat mengganggu stablitas produksiminyak.
  4. Faktor OPEC. Banyak yang menuding OPEC tidak berbuat banyak untuk mengeremkenaikkan harga minyak mentah. Tapi menteri perminyakan Saudi Arabia menepiknya, malah dia menuduh spekulator yang membuat ini jadi kacau balau. Buktinya minggulalu saat Saudi Arabia mengumumkan akan menaikkan produksi harian tambahan 300,000 barel, harga minyak dunia bukannya turun malah naik. Sekretaris OPEC jugayakin supply minyak ke pasar dunia adalah cukup.
  5. Faktor Spekulator, tingginya harga minyak membuat spekulator bursa komoditi sangat aktif. Mereka menggunakan uktuasi harga komoditi termasuk minyak mentah untukmencari keuntungan sebesar-besarnya. Bahkan mereka menggunakan dana pensiunatau dana bank investasi untuk main di bursa berjangka komoditas minyak. Bursaberjangka migas ini tadinya hanya didominan perusahaan-perusahaan migas terkait,sekarang digoreng” pemain-pemain non-migas yang tidak peduli dengan kesimbangansupply-demand, tentu makin sulit bagi OPEC untuk menstabilkan harga. Bagaimanadaysatnya dana spekulator ini ? Mereka sekarang sudah menguasai 70% lebih darikontrak untuk pembelian minyak mentah West Texas Intermediate di Bursa NY Mercantile. Bandingkan dengan tahun 2000, spekulator ini hanya menguasai 37%.Dengan demikian makin sulit memprediksi harga minyak mentah.

Pertumbuhan Kebutuhan Dunia (juta barel per hari)
grafik_kebutuhan.png

 

Menunggu Tindakan Amerika dan G-8

Lalu apa yang bisa dilakukan dunia terhadap ketidak pastian harga minyak ini? Banyakpengamat yang khawatir banyak negara berkembang yang akan bangkrut dan terjadigejolak sosial dan politik bila harga dibiarkan terus naik tak menentu. Dalam agendaPertemuan G-8 di Jepang minggu depan, ancaman kenaikkan harga minyak mentah akanmenjadi salah satu pokok pembicaraan pepimpin negara G-8 dan negara pengamattermasuk Indonesia. Semua orang berharap pemerintah Amerika mau mengambil tindakan nyata segera, misalnya dengan mengendalikan tingkah laku spekulator yangmenggunakan dana-dana publik. Ini mungkin yang paling efektif dalam jangka pendek.Apakah Bush mau mendengar atau dia akan cuek saja, menyerahkan masalah ini kepadapenguasa gedung putih baru November nanti? Kita hanya bisa sabar menuggu... (AH)
Selanjutnya >
Menu Utama
Home
Adi Harsono
Ali Khomsan
Eddy Satriya
Hadi Soesastro
J Soedradjad D.
Jack M. Niles
Mari Pangestu
Mohammad Sadli
Myra Sidharta
Saparinah Sadli
Setyanto P. Santosa
Shanti L.P.
Tanri Abeng
Lain-lain
Katalog
Artikel
Biografi
Arsip Lama
CPF Luhulima
Desi Anwar
Hadi Soesastro
Iwan Jaya Azis
Jafar Basri
M. Sadli
Mira Sidharta
Sri Mulyani Indrawati
- - - - - - -
Bulletin Kadin
Yay. Padi & Kapas
Artikel/Info Terkait
© Copyright 2005, Pacific Link

Go to the www.pacfiic.net.id Kumpulan Artikel BIOGRAFI